Bacalah 09. Kun Fayakun

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Dan Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar.

Dan benar kata-Nya waktu Dia berfirman:

Kun
fayakun – Jadilah, lalu jadilah”.

Dan ditangan-Nya segala kekuasaan waktu sangkakala ditiup.

Dia mengetahui yang ghoib dan yang nampak.

Dan Dia Mahabijaksana lagi Mahatahu. 73)

 

QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 73

 

 

PENGERTIAN kun fayakun tidak bisa diartikan harfiah dengan suatu kejadian tiba-tiba. Tetapi hasil kun fayakun pasti rasional melalui proses alamiah, ilmiah, bisa dipertanggung-jawabkan eksistensinya (reasonable). Misalnya kejadian langit-bumi dan seluruh isinya dan juga kejadian manusia mulai Nabi Adam yang “dilahirkan” Tuhan tanpa bapak ibu, Nabi Isa yang “dilahirkan” Tuhan tanpa bapak, hingga manusia yang lahir secara alamiah melalui pembuahan sperma dan ovum di dalam rahim seorang perempuan. Demikian pula kejadian alam lainnya seperti kejadian langit-bumi, gunung, lautan, awan, hujan, pembentukan benua, evolusi hewan dan tetumbuhan… dan lain-lain yang menakjubkan kejadiannya.

Potensi ilmu manusia “dibebaskan” menyelidiki kejadian alam maupun kejadian manusia secara ilmiah sepanjang kemampuannya. Ada yang kebetulan mendekati benar, ada yang meleset, ada pula yang bertentangan dengan kebenaran agama. Misalnya teori yang meleset tetapi bisa diluruskan kembali yaitu teori geosentris menjadi heliosentris, teori evolusi Darwin yang tidak terbukti kebenarannya hingga teori ilmu yang bertentangan dengan agama, misalnya teori atheisme dan filsafat pantheisme.

Ilmu pengetahuan manusia dalam sejarahnya saling menyempurnakan teori sebelumnya dan berusaha mendekati kebenaran yang lebih hakiki. Untuk mencapai kebenaran mutlak 100% atau kebenaran haq, pasti mustahil bagi manusia karena kebenaran haq hanya milik pribadi Tuhan.

Belum pula mencapai sekian persen totalitas dari penyelidikan alam, manusia akan berdecak kagum terhadap kreatifitas Tuhan yang menciptakan alam semesta. Berawal dari Big Bang dan berakhir di Black Hole menurut teori manusia. Demikian juga kejadian manusia di rahim yang saripatinya sperma dan ovum yang berasal dari tanah kembali ke tanah, dan ruhnya yang berasal dari Tuhan kembali ke Tuhan, tetapi entah di surga atau di neraka..

Sekilas kun fayakun tampaknya memang seperti sim salabim yang dilakukan tukang sulap. Misalnya ketika al-Qur’an menjawab permasalahan sebagai berikut ini:

Soal tudingan orang-orang yang ingkar bahwa Tuhan mempunyai anak termasuk Nabi Isa As, yaitu QS. 2:117, QS. 3:47, (dibandingkan penciptaan Nabi Adam As) QS. 3:59, QS. 19:35; Soal penciptaan langit dan bumi, hingga kekuasaan di waktu sangkakala ditiup, serta Dia yang mengetahui yang ghoib dan yang nyata, yaitu QS. 6:73; dan Soal membangkitkan orang yang sudah mati, yaitu QS. 16:40, QS. 36:83.

Semua bukti yang menguatkan keberadaan Tuhan melalui ciptaan-Nya selalu diingkari, mereka tidak bisa menerima fakta itu. Pada masa modern ketika ilmu manusia sangat maju tetapi mereka belum “menemukan” Tuhan. Maka disimpulkan bahwa Tuhan memang tidak ada. Ini telah membuktikan kebodohan ilmu manusia yang mencari Tuhan di luar angkasa tata surya yang tidak berarti dibandingkan dengan Lauh Mahfuzh.

Ahli astronomi telah sangat memahami bola-bola planit raksasa yang “mengambang” di ruang angkasa. Mereka telah bisa membuktikan secara sederhana bahwa benda yang diletakkan di ruang hampa akan mengambang. Dengan beberapa benda yang punya medan magnet dan gravitasi, mereka akan saling menjaga keseimbangannya dalam ruang angkasa hampa udara yang tiada bertepi itu. Tetapi, mereka pasti tidak atau sulit mempercayai adanya para malaikat Tuhan yang memelihara hukum-hukum langit dan Tuhan sendiri ada di balik semua ciptaan yang menakjubkan itu.

Demikian pula penciptaan manusia sangat bisa diteliti secara biologis melalui ilmu kedokteran yang semakin maju. Ayat berikut menjelaskan penciptaan manusia secara detail melalui proses biologis. Tetapi ketika pada tahap tertentu yang memasuki kawasan mahaghoib, itu mulai menjadi hak prerogatif Tuhan yang tidak diketahui siapapun tanpa ijin-Nya.

Tuhan menciptakanmu dari tanah lalu setetes mani, sesudahnya dari segumpal darah, lalu kamu lahir sebagai anak, lalu (kamu dibiarkan hidup) agar supaya kamu sampai pada masa (dewasa), lalu tua, di antaramu diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) agar kamu sampai pada ajal ditentukan dan supaya kamu memahami.67) Dia yang menghidupkan dan mematikan, maka jika Dia tetapkan urusan, Dia hanya berkata padanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.68) (QS. 40:67-68)

Ada wilayah antara dimensi kemanusiaan dan ketuhanan. Jika Tuhan tidak memberikan hak prerogatif pada Diri-Nya, justru itu ketidak-adilan. Pada ayat di atas, manusia pertama Nabi Adam As diciptakan dari tanah. Manusia modern sulit mempercayainya karena belum ada bukti ilmiah. Mereka tidak melihat kesimpulan yang mengembalikan manusia dari tanah. Sperma dan ovum juga berasal dari makanan yang ditumbuhkan dari dan oleh tanah. Pembuktian atau perhitungan terbalik itu (back calculation) bisa meyakinkan bahwa manusia pertama diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah, bukan evolusi primata seperti teori Charles Darwin. Sementara itu, kejadian manusia di dalam rahim adalah dimensi kemanusiaan yang lugas. Perkembangan detail yang diuraikan ayat tersebut sama dengan yang dicapai ilmu pengetahuan manusia. Tetapi ilmu manusia pasti tidak bisa menjangkau ketika ruh ditiupkan ke dalam janin manusia.

Logika ketuhanan tidak terbatas pada dimensi waktu dan ruang (trancends time and places) karena dua kerangka ini secara definitif ciptaan Tuhan yang direpresentasikan oleh ilmu manusia. Definisi “waktu” adalah hitungan yang didasarkan revolusi dan rotasi benda langit; dan “ruang” adalah jarak metrik di sekitar manusia secara fisik. Misal: satu tahun Masehi didasarkan pada revolusi bumi mengitari matahari, hitungan satu malam didasarkan pada satu kali rotasi bumi pada porosnya, dan seterusnya

Keterbatasan perhitungan dan ilmu pengetahuan manusia akan kandas manakala obyek yang dijadikan pedoman itu “lenyap”. Misalnya kejadian kiamat ketika benda-benda langit tidak beredar, berevolusi dan berotasi sesuai hukum alam. Pada saat itu proses kiamat besar sedang berlangsung, menghancurkan waktu dan ruang.

Secara astronomi, benda langit matahari, bumi dan planet lainnya, serta galaksi Bima Sakti, Andromeda dan lain-lain galaksi, dipastikan bergerak. Pergerakan ini konon menuju suatu titik yang dinamakan oleh ilmuwan astronomi sebagai Black Hole yang sangat misterius; suatu lobang atau jurang hitam tak terhingga di mana awal jagat raya ini dimulai sekaligus akan berakhir (starting and ending). Begitu benda langit tabrakan serempak, itulah yang namanya “sangkakala ditiup”. Secara fisik hancur lebur seluruh jagat raya. Apa yang dinamakan waktu dan ruang “lenyap”! Ilmu manusia tidak bisa menjelaskan setelah itu, karena sudah mulai memasuki medan pembahasan di luar kemampuan logika manusia.

Kun Fayakun bukan sim salabim dari tukang sulap yang mengandalkan gerakan tangan menipu mata penontonnya. Semua fenomena kun fayakun bukan tipuan mata, tetapi fakta.

Tiada yang Ghoib bagi Penciptanya

“…Dia mengetahui yang ghoib dan yang nampak…”.

Kata “ghoib” di sini dilawankan dengan kata “nampak”. Berarti “ghoib” disetarakan dengan yang “tidak nampak”. Arti “tidak tampak” secara umum adalah obyek yang belum terjangkau oleh mata dan ilmu manusia. Contohnya Black Hole yang diduga oleh ilmu manusia tetapi ilmu Tuhan sudah memastikan ada tidaknya Black Hole itu.

Banyak pemahaman awam yang menghitung-hitung produk amal dan hasil peribadatan. Seperti jumlah pahala, surga, neraka hingga sangkakala ditiup malaikat yang diartikan sangat lugas. Padahal perhitungan peribadatan tidak boleh dihambat pamrih karena harus berdasarkan cinta, ikhlas dan konsisten; bukan berapa jumlah pahala yang diperoleh dari amal-ibadatnya.

Demikian juga surga dan neraka yang tidak harus dipahami sebagai alam ghoib setelah kematian dan setelah kiamat, karena ilmu manusia tidak sampai ke sana. Pada saat tertentu, hakikat surga-neraka bisa disemayamkan di diri manusia. Inilah yang paling sangat bisa dijangkau oleh pemahaman manusia.

Tiada yang ghoib bagi Penciptanya. Manusia menciptakan komputer, pasti paham seluk-beluk komputer. Sub-sub sistem di dalam komputer, pastilah penemunya memahami benar cara kerja dan produk yang dihasilkan. Dengan mengambil analogi demikian, mengapa manusia masih meragukan kenyataan dan keghoiban sebagai hasil karya Tuhan Semesta Alam?

Cara menghampiri keghoiban yang akal tak bisa mencernanya adalah dengan analogi, perumpamaan. Misalnya di surga disebutkan ada sungai mengalir di dalamnya. Bisa ditafsirkan bahwa orang yang sedang beribadat, kontemplasi tafakkur dan tadzakur mengingat Tuhan seiring detak jantung dan jalannya darah; maka aliran darah yang mengalir di dalam urat tubuh merupakan “sungai” yang mengalirkan berbagai nikmat yang diridhoi Tuhan seperti dimaksudkan di dalam surga menurut pemahaman harfiah.

Beribadat adalah sarana meningkatkan iman dan taqwa. Tetapi ibadat juga untuk mengendalikan nafsu dan menambah ilmu, atau pemahaman akan suatu fenomena yang belum dijangkaunya. Peribadatan yang khusyu’ akan mengantarkan jiwanya menjadi tenang (nafsu muthma’inah), lalu merasuk ke dalam hati nurani yang terdalam tanpa dimensi. Di sanalah ditemuinya tempat bersemayam cinta sejati.

Cinta dan Kasih Sayang Tuhan

Tuhan pun ketika menciptakan Cinta dan Kasih Sayang-Nya, yang ditanamkan ke dalam hati orang-orang beriman, juga dengan kun fayakun melalui proses keikhlasan. Ketika rahmat diturunkan kepada orang beriman yang saling mencintai dan menanamkan kasih sayang terhadap sesamanya, mereka akan senantiasa bergayut pada akar Cinta kepada Tuhannya, atau Mahabbahbillah, yang baginya di atas segala-galanya.

Firman Tuhan pada QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 12,

Katakan: “Kepunyaan siapa yang ada di langit dan di bumi”. Katakan: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpunmu pada hari kiamat yang tiada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.12)

Firman Tuhan pada QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 54,

Jika orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Kami itu datang padamu, maka katakan pada mereka: “Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah tetapkan atas Diri-Nya kasih sayang“, (yaitu) siapa yang berbuat jahat di antaramu lantaran jahil, lalu ia taubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.54)

Kun fayakun pada penciptaan langit dan bumi disertai dengan ketetapan Kasih Sayang atas Diri-Nya. Jika manusia berbuat jahat karena jahil atau kebodohannya atau karena ketidak-tahuannya, jika ia bertobat menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulanginya maka Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Beberapa Kun Fayakun

Beberapa kun fayakun dalam al-Qur’an di antaranya meliputi: (1) Menjawab tuduhan kaum ingkar bahwa “Allah punya anak”. Lalu dijelaskan Allah pencipta langit-bumi (QS. 2:116-117), (2) Soal penciptaan ‘Isa (QS. 3:45-48) dan Adam (QS. 3:58-59), (3) Penciptaan langit-bumi (QS. 6:73), (4) Membangkitkan orang mati (Qs. 16:38-40), (5) Bantahan Isa bahwa ia anak Allah (QS. 19:33-35), (6) Penciptaan manusia, langit-bumi dari awal hingga sesudah hancurnya (QS. 36:77-83), (7) Penciptaan manusia secara sangat rinci (QS. 40: 67-68). ***

Puisi 9.

CINTA

Merentang jala jiwa ke dalam kehidupan dunia fana

Berlabuh behtera diri mencari hakikat nurani dan illahi

Deburan buih, hempasan ombak dan badai gelombang

Hanyalah menerpa hati orang-orang yang bimbang

 

Ruang dan waktu ternyata sebongkah batasan logika

Adapun ‘kekosongan’ adalah sebuah cita-cita

Menjalani hidup ikhlas tanpa pamrih bernafaskan cinta

Dengan cinta segalanya menjadi bermakna

 

Ketika nafsu mengendap di kerangka nafsu muthma’inah

Ketika jiwa berada di Pelukan Sang Rahmaan Sang Rahiim

Dan ketika cinta telah bergayut pada akar mahabbah

Maka, tiada takut, tiada kuatir, tiada sedih dan tiada pula mati

Itulah cinta suci illahi, damai dan abadi…

 

Surabaya, 29.03.1995

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: