Bacalah 08. Hakikat Ghoib

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang ghoib;

tiada yang tahu kecuali Dia,

dan Dia mengetahui yang di darat dan di laut,

dan tiada sehelai daun pun gugur selain Dia mengetahuinya

dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi

dan tidak sesuatu pun yang basah atau kering

selain tertulis dalam kitab nyata (Lauh Mahfuzh). 59)

 

Dia menidurkanmu di malam hari,

Dia mengetahui yang kamu kerjakan di siang hari,

lalu Dia membangunkanmu di siang hari

untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan,

Lalu pada Allah kembalimu,

Dia memberitahukanmu apa yang dulu kamu kerjakan. 60)

 

Dia mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya

dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga

hingga jika datang kematian di antaramu,

ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami

dan malaikat-malaikat Kami itu tidak lalai akan kewajibannya. 61)

 

Lalu mereka (hamba-Nya) dikembalikan kepada Allah,

Penguasa mereka yang sebenarnya.

Ketahuilah, segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya.

dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat. 62)

 

QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 59-62

 

 

MASALAH ghoib oleh orang awam biasanya dikaitkan mistikisme, irrasional dan dengan melalui media perantara seperti pusaka atau keris, pantangan yang aneh, memerlukan sajian dan perilaku nyleneh lain sebelum mempelajari dan menjalaninya. Padahal kepercayaan itu banyak dilakukan dengan bantuan para jin walaupun atas seijin Tuhan tentunya.

Dan (ingatlah) hari (yang waktu itu) Tuhan mengumpulkan mereka lalu firman-Nya kepada malaikat: “Apa mereka ini dulu menyembahmu?” 40) Jawab malaikat-malaikat: “Mahasuci Engkau, Engkaulah Pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu“.41) Maka pada hari ini sebagian kamu tidak kuasa (untuk memberi) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan pada sebagian yang lain. Dan Kami katakan kepada orang zalim: “Rasakan olehmu azab neraka yang dulu kamu dustakan itu. 42) (QS. 34:40-42)

Banyak orang yang mengharapkan mu’jizat sebagai suatu hal ghoib tanpa usaha memadai. Kebanyakan usaha itu menyertakan syarat-syarat yang diperintahkan dukun, tukang sihir dan orang pintar pada mereka yang zalim, orang-orang sesat yang beriman dan meminta bantuan kepada jin-jin. Sedangkan hal ghoib atau mu’jizat dari Tuhan dipandang sebagai suatu yang jauh dan mustahil turun dari langit. Mengenai ini, Nabi Muhammad pernah dihadapkan kepada kaum musyrik yang ingin mu’jizat.

Kata orang-orang musyrik Mekah: “Mengapa tidak diturunkan padanya (Muhammad) mu’jizat dari Tuhan”. Katakanlah: “Sesungguhnya Allah Mahakuasa menurunkan suatu mu’jizat, tetapi kebanyakan dari mereka itu tidak mengetahui.37) ” (QS. 6:37)

Ayat tersebut merupakan petunjuk bahwa mu’jizat tidak hanya terkait dengan supranatural yang aneh-aneh. Tetapi hal-hal natural yang sangat sederhana bisa merupakan cikal-bakal mu’jizat yang sangat besar.

Misalnya kejadian diri manusia sendiri, bagaimana diciptakan? Patutkah proses kejadiannya itu disebut sihir? Bagaimana pula janin mikrokospis itu bisa menjadi manusia dengan segala keindahan dan kesempurnaan? Atau, bagaimana dengan pembangkangan manusia yang dijelaskan al-Qur’an dan manusia menjadi serendah-rendahnya mahluk? Semua itu sudah merupakan mu’jizat al-Qur’an bagi orang yang memahami isi kandungannya. Semua keghoiban yang “ditampilkan” oleh al-Qur’an sangat ilmiah dan rasional, tidak seperti permainan tukang sulap atau tukang sihir yang sangat rendah dan lemah di mata Tuhan.

Kunci Keghoiban dan Sehelai Daun Gugur

“Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang ghoib; tiada yang tahu kecuali Dia, dan Dia mengetahui yang di darat dan di laut; dan tiada sehelai daun pun gugur selain Dia mengetahuinya dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu pun yang basah atau kering, selain tertulis dalam kitab nyata (Lauh Mahfuzh). 59)

Penekanan ayat di atas terdapat pada ungkapan “Tiada sehelai daun pun gugur selain Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun di dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu pun yang basah atau kering selain tertulis dalam kitab nyata (Lauh Mahfuzh)”. Ungkapan yang sangat realistis ini sudah menunjukkan sifat-sifat Mahaghoib dari Dzat Ketuhanan bagi mereka yang menggunakan nalar pikiran dan iman. Daun yang gugur dan sebutir biji di malam gelap bukan suatu hal ghoib bagi realitas manusia yang melihatnya sehari-hari. Tetapi, ada yang Maha Mengaturnya dan Maha Mengetahuinya fenomena sekecil itu di tengah semesta alam tak terbatas. Itulah yang ghoib!

Ciri-ciri keghoiban yang berasal Tuhan adalah agar manusia berpikir, mengasah otak, menggunakan nalar dan memanfaatkan pikirannya, karena keghoiban itu sifatnya amat logis, rasional dan step by step. Keghoiban yang diturunkan Tuhan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa pasti untuk kemaslahatan hamba-hamba-Nya, bukan untuk kekufuran atau kebatilan.

Hal-hal yang bisa dikategorikan ghoib bagi masyarakat awam seperti hantu, arwah penasaran, sihir, santet, teluh, gendam, pelet dan lain-lain yang sumbernya berasal dari bisikan setan kepada jin atau iblis dan manusia, pasti mempunyai sifat yang menyesatkan dan menjerumuskan manusia.

Keghoiban Tuhan sangat realistis; tetapi logikanya bertingkat. Tuhan lebih suka menunjukkan Kebesaran-Nya dengan menunjukkan hal-hal kecil, “tiada sehelai daun pun gugur selain Dia mengetahuinya dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu pun yang basah atau kering” Selain daun, Tuhan memakai perumpamaan nyamuk, lebah, sarang laba-laba dan lain-lain. Sifat Tuhan yang demikian menjadi inspirasi atau teladan bagi orang arif-bijaksana yang makin tinggi ilmunya makin merunduk atau rendah hati perilakunya. Tuhan menunjukkan kebesaran dengan kelembutan.

Kearifan sering “menjebak” orang awam. Dengan kesederhanaannya, orang tidak menyangka bahwa ia orang alim. Ilmunya tidak bertitel sarjana, atau pakaian yang disandangnya. Tetapi ucapan yang keluar dari lisannya sangat bijaksana meneduhkan hati bagi yang mendengarnya. Keghoiban itu baginya adalah kesederhanaan itu sendiri. Itulah ciri orang alim yang saleh.

Adapun ‘keghoiban’ atau mu’jizat khusus yang diberikan Tuhan kepada nabi, rasul dan sebagian hamba-hamba-Nya bisa dirasakan dan dialami hamba-Nya yang hidup di masanya. Mereka meneladani perilaku nabi, rasul dan para sahabatnya; seperti mensucikan hati-jiwa, tidak berprasangka, melazimkan diam dan puasa, tiada waktu selain selalu mengingat Tuhan yang tercermin dari perilaku sehari-hari, menjaga makanan, menjaga lisan, menjaga pikiran, “lambung” jauh dari tempat tidur alias suka menegakkan ibadat di malam hari, suka berkhalwat dan lain-lain kegiatan yang prinsipnya menajamkan mata hati dan pendengaran batin. Semua syarat itu sangat berat bagi orang modern yang terjebak rutinitas kerjanya. Jika perilaku suci dan mulia seperti itu dilakukan secara khusyu’, ikhlas dan istiqomah, lalu dijaga dan ditingkatkan, maka Tuhan akan mengangkat maqamnya. Apa pun yang dinamakan “ghoib” atau mu’jizat khusus itu akan datang dengan sendirinya.

Berita Ghoib kepada Nabi

Kepada Nabi Muhammad telah diberitakan kisah-kisah nabi, rasul dan para umat terdahulu “seakan” Nabi bersama mereka. Karena itu, berita-berita yang disampaikan oleh Malaikat Jibril termasuk hal ghoib, selain di dalam kisah terdahulu itu sendiri mengandung ghoib. Berita ghoib yang dimaksud di antaranya: (1) Soal Maryam dan Nabi Isa As (QS. 3. Ali ‘Imran 42-44), (2) Soal Nabi Nuh As dan bahteranya (QS. 11. Huud 49), (3) Soal kisah para rasul yang terdahulu (QS. 11. Huud 121-123), dan (4) Soal Nabi Yusuf As dimasukkan ke sumur oleh saudara-saudaranya (QS. 12. Yusuf 102).

Berita dari kisah masa lalu, kisah rasul maupun kaum-kaum terdahulu yang disampaikan pada Nabi Muhammad adalah pelajaran baginya dan orang-orang yang mengikutinya; serta merupakan satu kesatuan ayat Tuhan karena Nabi Muhammad adalah nabi terakhir sebagai penutup para nabi dan sekaligus penyempurna ajaran tauhid.

Mu’jizat bagi Nabi dan Rasul

Tuhan memperlihatkan hal-hal ghoib pada tingkat tertentu kepada rasul yang mempunyai maqam tertentu pula. Makna “rasul” secara harfiah yaitu utusan Tuhan sebagai orang suci atau manusia pilihan yang telah tercatat pada sejarah masa lalu dan kebanyakan dari Arab. Tetapi makna “rasul” secara khusus bisa meliputi orang yang beriman an bertaqwa, manusia suci di mana pun berada di belahan bumi, zaman kuno atau zaman modern yang konsisten menjalankan ajaran tauhid. Mereka yang termasuk kategori rasul secara khusus berfungsi sebagai rasul sebagai utusan untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan.

Orang-orang khusus tersebut tidak mengajarkan agama baru, tetapi “hanya” menjalankan dan meneruskan tugas kerasulan sebelumnya. Adapun salah satu ciri khas kelebihannya soal ghoib adalah ia tidak menampakkan atau memamerkan kelebihan pada sembarang orang, apalagi “menjualnya”.

Beberapa kelebihan khusus itu misalnya; melihat alam malakut, melihat masa lalu seseorang, tetapi tidak bisa melihat masa depan karena itu mutlak milik Tuhan, mampu membaca karakter seseorang dari garis wajah maupun dari tarikan-hembusan nafasnya, mengobati melalui pengobatan alternatif, “penglihatannya” menembus batas ruang dan waktu, dan lain-lain.

Suatu ketika ada seorang Salik yang ingin mencoba salah satu kelebihan yaitu melihat “alam lain”. Oleh seorang guru spiritual, diberinya ia resep untuk puasa mutih selama tiga hari tiga malam dan tidak tidur. Ia berusaha memulai puasa mutih, tapi hanya bertahan sehari. Malam pun ia mengantuk. Tetapi ia memahami filosofinya yang cukup logis, meskipun belum mampu melaksanakannya karena keterbatasan fisik yang belum terlatih.

Perilaku khusus yang telah bisa melihat hal ghoib atau “aneh-aneh” bagi orang awam dirasakan sangat berat, karena pola makan, minum, bicara dan pola hidup keseluruhannya sudah tidak umum lagi. Semuanya khusus dan telah terpelihara secara konsisten. Misalnya makan dari umbi-umbian dan dedaunan yang direbus; menjauhi daging dan minyak. Minuman khususnya dari perasan kunir, jahe, kencur dan semacam tanaman toga lainnya. Pemilahan makan dan minum tersebut mempunyai nilai filosofi yang sangat bisa diterima oleh nalar, terutama dari segi kesehatan lahir maupun batin.

Secara psikis, pikiran dan lisan orang khusus tersebut sangat terpelihara dari hal-hal yang bersifat prasangka dan dari ucapan yang tidak berguna. Dengan mengurangi hal tiada berguna akan memantapkan daya konsentrasi ketika ia ibadat atau tadzakur-tafakkur dan lain-lain kegiatan rohaninya.

Sedangkan peribadatan orang khusus akan memasuki kawasan yang lebih khusus lagi, mulai dari pemahaman ketuhanan, kegiatan sholat dan zikir hingga menjalankan puasa benar-benar sakral. Menghidupkan zikir dan kontemplasi malam hari adalah kelaziman baginya.

Hasil berbagai suluk atau perilaku khusus dalam kaitannya berhubungan dengan Tuhannya, hamba yang saleh akan menerima sesuai upayanya itu. Seleksi masalah ghoib untuk orang khusus misalnya: (1) Tuhan tidak akan menampakkan yang ghoib kecuali pada yang dikehendaki-Nya (QS. 3:170), (2) Tuhan memperlihatkan yang ghoib hanya pada rasul yang diridhoi-Nya (QS. 72:26-28), (3) Orang ingkar tidak akan mengetahui hal-hal yang ghoib, kecuali yang telah disesatkan jin (QS. 19:77-82), (4) Nabi Muhammad melihat Jibril di ufuk yang sangat terang. (QS. 81:23-29).

Hal ghoib pada awal QS. 72. Jinn 26-27 mengacu dari al-Qur’an dan diperlihatkan pada rasul yang dikehendaki-Nya. Kejadian itu disebut ghoib karena belum terpecahkan rahasianya dan bisa disebut mu’jizat rasul.

Kata mu’jizat menurut kamus besar Bahasa Indonesia berarti kejadian yang ajaib (ghoib) yang sungguh menakjubkan seperti yang ditunjukkan oleh para nabi, yang tidak (atau belum) terjangkau pikiran manusia. Misalnya kemajuan komunikasi, penerbangan, kedokteran dan teknologi canggih lain di masa kini akan menjadi mu’jizat atau ghoib bagi orang-orang masa lalu. Mereka yang jahiliyah pasti takjub heran melihat hand-phone tanpa kabel, pesawat supersonic atau pil kecil yang menyembuhkan berbagai penyakit. Sebaliknya, hal ghoib yang diperlihatkan Tuhan kepada nabi pada masa lalu, beberapa di antaranya masih misteri hingga kini, karena teknologi canggih belum mampu menguak rahasia yang terdapat di dalamnya.

Beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan hal itu di antaranya,

Nabi Musa diberi Tuhan 9 mu’jizat nyata (QS. 17:101) di antaranya tongkatnya memukul batu dan keluarlah 12 mata air (QS. 2:60), ia bicara langsung dengan Tuhan (QS. 4:164), tongkatnya menjadi ular (QS. 7:107), tongkatnya membelah laut (QS. 26:63-68), pertemuan dengan ibunya kembali serta merta disusui oleh ibunya sendiri (QS. 28:13-14),

Nabi Ibrahim menghidupkan burung yang mati tercabik (QS. 2:260), kebal api (QS. 21:69-70), mimpi mengorbankan anaknya Ismail dengan menyembelinya, dirubahnya Ismail oleh Tuhan menjadi hewan sembelihan yang besar (QS. 37:101-111),

Nabi Sulaiman mampu menundukkan angin kencang dan segolongan setan yang tunduk bekerja padanya (QS. 21:81-82), tentaranya berupa jin, manusia, burung serta ia bisa berbicara dengan hewan (QS. 27:15-19),

Nabi Isa mampu membuat burung hidup dari tanah liat yang mati, menyembuhkan orang buta dan orang yang berpenyakit sopak, bahkan menghidupkan orang yang mati (QS. 3:49), proses ‘kematian’nya hingga ‘kebangkitan’nya (QS. 4:156-159), meminta melalui doanya agar Tuhan menurunkan hidangan dari langit (QS. 5:114-115), ia terlahir tanpa bapak dan bisa bicara ketika masih bayi (QS. 19:16-40),

Nabi Muhammad dengan al-Qur’an (QS. 2:23-24), perjalanan ghoib yang spektakuler yaitu isra’ mi’raj (QS. 17:1 dan QS. 53:13-14).

Demikianlah dikisahnya hal-hal ghoib, kelebihan yang dimiliki oleh para nabi dan rasul sebagai orang khusus, manusia pilihan Tuhan hingga beberapa mu’jizat yang mengandung keghoiban yang dianugerahkan Tuhan kepada para nabi dan rasul-Nya.

Tuhan yang Mahaghoib

Kepada para rasul terdahulu ketika ditanya suatu kasus, ternyata dengan arif dan sikap rendah hati dijawabnya tidak tahu. Misalnya tidak mengetahui apa yang dibisikkan hati kaumnya dan jawaban apa dari yang diserukan para rasul pada mereka,

Pertama, rasul tidak mengetahui isi hati kaumnya, “…sesungguhnya Engkau mengetahui perkara yang ghoib” (QS. 5:109),

Kedua, Nabi Isa tidak berkata Tuhan itu tiga. “…Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya maka tentu Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa-apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Mengetahui perkara yang ghoib…” (QS. 5:116-117),

Ketiga, Nabi Muhammad tidak mengetahui semua yang ghoib. “…Aku tidak mengatakan padamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku dan aku tidak tahu yang ghoib dan tidak aku katakan padamu bahwa aku malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan padaku…” (QS. 6:50), “Sesungguhnya yang ghoib itu kepunyaan Allah; oleh sebab itu tunggulah olehmu, sesungguhnya aku juga bersamamu termasuk orang-orang yang menunggu.” (QS. 10:20),

Keempat, pada sisi Tuhan kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengtahui kecuali Dia (QS. 6:59),

Kelima, hari kiamat yang ghoib dan hanya Tuhanlah yang Mahatahu, (QS. 6:73, QS. 7:187-188, QS. 34:3),

Keenam, dibalik sedekah (dan zakat) ternyata ada sesuatu yang ghoib, karena akan bisa membersihkan, mensucikan dan menentramkan jiwa yang mengamalkan sedekah itu. (QS. 9:78-79, QS. 9:103-105),

Ketujuh, pekerjaan manusia juga meliputi berbagai hal ghoib, walaupun ia tidak menyadari. (QS. 9:94),

Kedelapan, Nabi Nuh As juga tidak mengetahui semua yang memiliki sifat ghoib. (QS. 11:11),

Kesembilan, Tuhan Mahatahu janin di dalam rahim (QS. 13:8-9),

Kesepuluh, Dzat Tuhan yang Mahasuci dan Mahaghoib dari apa yang manusia sifatkan dan perkirakan kepada-Nya, (QS. 23:91-98),

Kesebelas, kurnia besar yang diberikan Tuhan ada yang bersifat nyata dan ada juga yang bersifat ghoib jika manusia benar-benar merenungkannya dan bersyukur. (QS. 27:72-75),

Keduabelas, ada yang ghoib dalam penciptaan langit dan bumi, ‘Arsy, mengatur urusan dari langit ke bumi hingga penciptaan manusia mulai dari saripati air hina hingga penyempurnaannya, tetapi banyak manusia yang tidak mampu dan juga tidak mau bersyukur. (QS 32:4-9),

Ketigabelas, semua mahluk tak ada yang tahu wafatnya Nabi Sulaiman kecuali rayap. Nabi Sulaiman masih bertelekan tongkat ketika wafat. Tetapi posisinya tidak menunjukkan beliau wafat. Hanya rayap yang ditunjukkan Tuhan akan kematian Nabi Sulaiman. Tongkat itu dimakan rayap hingga rapuh dan patah, akibatnya jasad Nabi Sulaiman tersungkur. (QS. 34:14),

Keempatbelas, soal mereka yang tidak mengtahui hakikat ghoib tetapi mengaku-aku dan menduga-duga ghoib dari tempat jauh. Padahal Tuhan yang Mahaghoib itu Mahadekat. (QS. 34:48-54),

Kelimabelas, secara tersembunyi atau ghoib, Tuhan juga memutuskan segala perkara. Apa pun macam perkara itu dan keputusannya, Tuhan yang berhak mutlak mengaturnya. Bagi orang beriman dan berharap syafa’at-Nya, hendaklah menyadarinya dan berdoa agar keputusannya benar. (QS. 39:46),

Keenambelas, setiap gerakan lembut pun Tuhan Mahatahu, termasuk nikmat ‘aslama yang di dalamnya juga ada yang ghoib. (QS. 49:17-18),

Ketujuhbelas, kesucian adalah ghoib. Jangan menilai diri suci, sebab Tuhan Mahatahu siapa yang paling taqwa. (QS. 53:31-35),

Kedelapanbelas, Mahaghoib salah satu sifat Tuhan. (QS. 59:22-24),

Kesembilanbelas, kematian sebagai suatu yang ghoib. (QS. 62:5-8),

Keduapuluh, memberikan pinjaman ada yang bersifat yang nyata dan ghoib bagi Tuhan untuk manusia. (QS. 64:13-18).

Spesifikasi Keghoiban

Dari pembahasan di atas, spesifikasi ghoib bisa dilihat pada tabel:

Tabel 2. Spesifikasi Keghoiban

Jenis Keghoiban

‘Ruang’ Keghoiban

Kemampuan Subyek

Media

Ghoib Mutlak,

Mandiri,

TUHAN

Dzat-Nya Sendiri

Allah Sendiri

T

Ciptaan-Nya

Seluruh Mahluk

Y/T

Rahiim-Nya

Yang Beriman

Y/T

Laknat-Nya

Yang Ingkar

Y/T

Ghoib Nisbi,

Bergantung,

Mahluk

Sidratul Muntaha

Allah dan Muhammad

Y/T

‘Arsy

Allah, Muhammad, Malaikat

YT

Lauh Mahfuzh

Alam Metafisika, Jin, Malaikat…

Y/T

Alam Manusia

Alam Fisika

Y/T

Keterangan: T = tidak butuh media eksistensi, Y = ya, (relatif) butuh media eksistensi

Orang tidak sabar ingin menguasai keajaiban, tak mau dan tak mampu menelusuri filosofi ghoib dari bawah. Hierarki spesifikasi keghoiban bisa dilakukan dengan perilaku yang diajarkan nabi. Misalnya Nabi Muhammad yang mencapai kedudukan tertinggi sebagai manusia bahkan melebihi malaikat pada Peristiwa Isra’ Mi’raj. Betapa Nabi Muhammad mampu mencapai Sidratul Muntaha (QS. 53:13-18) dan menerima perintah sholat di “tempat” paling ghoib itu. Karenanya, umat yang menghendaki kemuliaan itu, perintah sholat yang diterima Nabi Muhammad bisa menjadi sarana “menggapai” Sidratul Muntaha.

Tetapi orang-orang ingkar yang tidak mau mendirikan sholat, sehingga tidak mampu merasakan keghoiban yang benar. Lalu berpalinglah ia ke jin, dan dengan mudah mereka peroleh keghoiban yang salah. Tuhan berfirman, “Dan bahwa ada beberapa orang laki-laki di antara manusia yang minta perlindungan pada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu akan menambah bagi mereka dosa dan kesalahan” (QS. 72:6)

Dengan dangkalnya ilmu, menempuh jalan pintas, orang ingkar tidak sepenuhnya iman kepada Tuhan. Orang-orang yang dangkal imannya pun masih menjadikan jin sebagai sekutu Tuhan. Jin dan manusia pada dasarnya memiliki kemampuan ghoib, tetapi kemampuan itu tidak dikembalikan kepada yang Mahaghoib yang memegang kunci-kunci semua yang ghoib.

Tuhan tidak pernah menjelaskan keghoiban secara irrasional. Tetapi ada hal ghoib ayng pada tatanan tertentu tidak untuk semua hamba-Nya karena keterbatasan ciptaan-Nya itu. Hanya orang-orang yang mau dan mampu khusyu’ menghayati Tuhan yang Mahabatin untuk mengetahui keghoiban sesuai maqam-nya. Kunci-kunci ghoib itu mutlak ada pada Tuhan dan Tuhan memberi salah satu kunci itu pada orang yang sesuai maqam-nya. Untuk memahami berbagai tingkat keghoiban, modalnya dengan iman, taqwa, istiqomah, qonaah, zuhud, wara’, tawadhu’ dan perilaku yang dicontohkan oleh para nabi, rasul, auliya’ atau orang-orang suci terdahulu.

“Dia mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya, dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, hingga jika datang kematian di antaramu, ia diwafatkan malaikat-malaikat Kami dan malaikat-malaikat Kami itu tidak lalai akan kewajibannya.61)

“Dia mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya…” yang mengingatkan bahwa “keghoiban” atau “kesaktian” yang dianugerahkan Tuhan pada orang beriman tidak membuatnya sombong dan takabur karena peringatan di atas. Tiada pula ketakutan bagi orang yang mengimani Tuhan terhadap kekuatan ghoib selain Tuhan, karena ia bersandar dan berlindung pada-Nya yang memiliki kekuasaan tertinggi atas semua hamba-Nya.

Karena itu “…dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga…”. Bersandar dan berlindung kepada Tuhan tentunya dengan memenuhi dulu kewajiban sebagai hamba secara konsisten, melaksanakan tuntunan-Nya dan menjauhi larangan-Nya secara sadar dan ikhlas.

“Kelebihan” yang pada manusia juga termasuk salah satu keghoiban. Berbagai kelebihan yang dimiliki manusia patut disyukuri sebagai karunia dari Tuhan yang Maha Pengasih-Penyayang. Kelebihan yang dikembangkan dan terus disempurnakan akan mewujudkan kekaguman pada diri sendiri dan kekaguman itu harus dikembalikan pada Tuhan Sang Maha Memiliki Pujian yang telah memberikan sebagian kecil dari sifat-sifat-Nya kepada manusia.

“Lalu mereka (hamba-Nya) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, segala hukum (pada hari itu) kepunyaan-Nya, dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat.62)

Pada tatanan tertentu, “kesaktian” seseorang tidaklah harus bersifat kanoragan atau kesaktian menurut pemahaman orang awam pada umumnya. Bahkan di dalam cerita silat, pendekar yang mempunyai banyak senjata atau besar senjatanya justru tidak menunjukkan digdaya-nya atau kesaktiannya. Nilai “kesaktian” juga tidak pula ditunjukkan dari fisik yang kekar dan kelincahan tubuh bersalto. Pendekar yang mumpuni justru sering terlihat tubuhnya yang kecil dan hanya bersenjata tongkat bambu. Tetapi, ada wujud “kesaktian” lain yang berupa ilmu, sikap sabar, rendah hati dan lain-lain yang sebenarnya akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Seorang yang telah memahami semua skenario Tuhan, baik yang nyata maupun yang ghoib, menghayati dan menjalani hukum Tuhan; maka ia akan mengembalikan semuanya kepada Tuhan, termasuk hakikat dirinya sendiri. Pada tingkat pemahaman seperti ini, sifat ma’rifatnya sudah pada perilaku “mati ning sajroning urip, urip ning sajroning pati” atau diterjemahkan menjadi “mati di dalam hidup, hidup di dalam mati”. Detail filosofi ini ada pada Kajian 34: Pengembaraan Jiwa.

Memahami dan menghayati rahasia hati dan jiwa yang termasuk kategori ghoib juga, manusia akan merasakan “kesaktian” atau “keghoiban” hakikat hidup-mati sebenarnya yang diingatkan Tuhan pada akhir ayat ini.

Tuhan sekali-kali takkan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu saat ini, hingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mu’min). Dan Tuhan sekali-kali takkan memperlihatkan padamu hal-hal ghoib, akan tetapi Tuhan pilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah pada Tuhan dan rasul-rasul-Nya jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (QS. 3:179)

Puisi 8.

Udara

Tak terlihat oleh mata

Tak teraba oleh tangan

Tak tercium oleh hidung

Tak terdengar oleh telinga

Tak jua terjilat oleh lidah

 

Tetapi dia ada

Kuhirup dan membuatku hidup

 

Ajaib…? Ghoib…?

 

Bandung, 09.03.2004

(Selasa, 17 Muharram 1425 H, 12.26 WIB, hari ke-17)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: