Bacalah 07. Zikirullah

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi:

dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. 189)

 

Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi,

dan silih bergantinya malam dan siang,

terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, 190)

 

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah

sambil berdiri, duduk atau berbaring,

dan mereka pikirkan penciptaan langit dan bumi

(dan berkata):

“Ya Tuhan kami,

tiada Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,

Mahasuci Engkau, peliharalah kami dari siksa neraka. 191)

 

Ya Tuhan kami,

sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka,

maka sungguh telah Engkau hinakan ia,

dan tiadalah bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. 192)

 

Ya Tuhan kami,

sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman:

(yaitu) “Imanlah kamu pada Tuhanmu” maka kami beriman.

Ya Tuhan kami,

ampuni dosa kami dan hapuskan kesalahan kami

dan wafatkan kami beserta orang-orang yang berbakti. 193)

 

Ya Tuhan kami,

berilah kepada kami

apa yang telah Engkau janjikan pada kami

dengan perantara rasul-rasul Engkau

dan jangan Engkau hinakan kami di hari kiamat

Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji”. 194)

 

QS. 3. Ali-‘Imran (Keluarga ‘Imran) 189-194

 

BANYAK ayat al-Qur’an berbunyi; “Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. Meskipun itu diulang berkali-kali, tetapi masih banyak yang kurang memperhatikannya, apalagi mengingatkannya kepada Sang Maha Pencipta langit dan bumi itu.

Ingat Tuhan dalam Keadaan Apapun

Ayat di atas dilanjutkan usaha ingat Tuhan (zikirullah) dalam keadaan apapun; “…(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau berbaring dan mereka pikirkan soal penciptaan langit dan bumi…”. Makna dari kata berdiri, duduk, berbaring bisa ditafsirkan menjadi beberapa kondisi atau keadaan, yaitu: (1) bekerja, istirahat, tidur; dan (2) perubahan fase remaja-dewasa, dewasa-tua, tua-mati.

Pada saat mengingat Tuhan dalam keadaan apapun, substansi seruan “imanlah kamu pada Allah” akan dijawab tegas oleh orang-orang beriman “kami beriman” dengan segala konsekuensinya.

Mengingat Tuhan bukan hanya komat-kamit
zikir di bibir atau berhenti pada pemahaman ilmiah berdasarkan penalaran logika. Mengingat Tuhan atau zikirullah harus seirama dengan konsekuensi beragama yang seutuhnya atau kaffah, yaitu harus melibatkan seluruh potensi diri dan niat untuk menyesuaikan diri dengan Kehendak Tuhan.

Para ahli zikir yang telah biasa dengan “gerakan” zikirnya, di dalam setiap gerakannya dan segala sesuatu yang ada di depan matanya senantiasa mengingatkannya kepada Allah, Tuhan Semesta Alam.

Tuhan pun akan Ingat

Konsekuensi mengingat Tuhan di dalam keadaan apa pun adalah Tuhan juga akan mengingatnya. Inilah keseimbangan Tuhan dengan hamba-Nya, sebagaimana hadist qudsi yang menjelaskan bahwa definisi “Tuhan” itu tergantung pada pemahaman hamba-hamba-Nya. Selain itu ada ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan takkan merubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak merubahnya. Ini isyarat kedekatan Tuhan dengan hamba-hamba-Nya.

Tuhan berfirman dalam hadits qudsi:

“Wahai anak-anak Adam, apabila engkau ingat pada-Ku dalam keadaan sunyi sepi, Aku akan ingat kepadamu dalam keadaan sunyi sepi. Dan apabila engkau ingat pada-Ku di khalayak ramai, Aku akan ingat pula keadaanmu di tengah khalayak ramai yang lebih baik dari tempat engkau ingat kepada-Ku” (HQR. Bazzar, sumber dari Ibnu Abbas r.a.)

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 152,

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu dan bersyukurlah pada-Ku dan jangan kamu mengingkari-Ku. 152)

Firman Tuhan pada QS. 14. Ibrahim 7,

Dan (ingat juga), takala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) padamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. 7)

Berkaitan dengan ayat-ayat tersebut akan muncul negasi awam yang mempertanyakan apakah Tuhan juga tertimpa sifat kelupaan? Karena jika manusia tidak ingat Tuhannya, maka Tuhan pun tidak ingat hamba-Nya. Negasi yang muncul itu akibat manusia telah mencampuradukkan wilayah kemanusiaan dengan ketuhanan.

Beberapa Upaya Praktis

Sebenarnya manusia yang telah menyadari keberadaan dirinya di tengah alam semesta, ia juga secara otomatis (seharusnya) menyadari keberadaan Tuhannya. Karena, tidak mungkin ia berada di suatu tempat jika tidak ada yang menempatkannya di sana. Karena, tidak mungkin ia mengembangkan kreasinya jika tidak ada yang memberinya imajinasi…

Mereka yang diperkenankan mengenal atau ma’rifat kepada Tuhannya, oleh Tuhannya, maka aktifitas sehari-harinya pasti bisa merasakan kehadiran Tuhannya melalui ciptaan-Nya yang sarat di depan matanya. Beberapa usaha merasakan kehadiran Tuhan melalui zikirullah ternyata sangat dekat dengan aktifitas sehari-hari. Misalnya:

Pertama, seorang Salik mengendarai mobil, hati-lidah-bibirnya berzikir sedang tangan kiri memutar tasbih dan mengatur persneling, tangan kanan mengendalikan setir. Suara car-audio melantunkan musik softly. Dengan konsentrasi cukup, dua kegiatan menyetir dan berzikir bisa dilakukannya. “Yaa Allah, Yaa Rahmaan, Yaa Rahiim, Yaa Lathiif, Yaa Shobur….” dan seterusnya sambil melajukan mobil di antara padatnya lalu-lintas kota. Kemacetan tidak membuatnya stres karena semakin memberi kesempatan konsentrasi pada zikir. Hangatnya sinar matahari pagi menjelang siang itu masuk melalui kaca mobil dan menyentuh kulitnya, matahari “menyapanya”. Tetapi yang dirasakan adalah Tuhan “menyapanya” melalui matahari-Nya. Kwanta sinar matahari meresap masuk melalui pori-porinya. Bulu kuduk berdiri merasa kedekatan Tuhan melalui sengatan hangat matahari-Nya. Ia berucap pelan, “..Ya Tuhan kami, tiada Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, peliharalah kami dari siksaan neraka.191)Tuhan ternyata tidak segan-segan “menghangatkan dirinya” melalui ciptaan-Nya.

Kedua,
zikirullah tak harus dilakukan dalam masjid yang suci ataupun di atas sajadah yang bersih. Zikirullah bisa pula dilakukan di mana saja bahkan di tempat (maaf) lokalisasi pelacuran-perjudian. Suatu ketika si Salik sedang berjalan-jalan di malam hari, di kawasan lokalisasi yang gemerlap. Di balik etalase rumah bordil yang remang-remang dibisingkan house music hingar bingar, duduklah beragam pilihan pelacur dengan segala dandanan. Beberapa tamu pria tampak setengah mabuk karena meneguk bir. Mereka kelihatannya mengobrol atau sedang bertransaksi. Si Salik yang sedang berkhalwat itu menerima pelajaran berat di tempat sesat seraya ia berzikir, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia dan tiada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.192)

Ketiga, suatu saat si Salik mengantar jenazah sohibnya yang meninggal. Hujan turun. Tetes air hujan menyentuh kulit terasa dingin. Tetapi baginya tetesan air hujan itu manifestasi Tuhan menyapa dirinya melalui hujan-Nya, “Yaa Allah, Yaa Muhyi, Yaa Mumiit…”. Ia dan rombongan pengiring jenazah melaksanakan penguburan jenazah. Setelah itu terdengar suara azan memanggil, ia pun berucap; “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru pada iman, (yaitu): “Imanlah kamu pada Tuhanmu” maka kami beriman…” Setelah itu ia berucap; “Ya Tuhan kami, ampuni dosa kami dan hapuskan kesalahan kami dan wafatkan kami beserta orang-orang yang berbakti.193)Lalu ia sholat di suatu masjid dan i’tikaf sebentar di sana.

Keempat, ketika si Salik sedang bersholawat kepada Nabi Muhammad, ia pun mengingat, merenungkan dan merasakan sifat-sifat dan kehidupan Nabi Muhammad yang santun, sabar, ikhlas pada umatnya. Jika sholawat dilakukan dengan khusyu’ akan mengantarnya kepada kedekatan dengan Nur Muhammad-nya. Jika bertambah khusyu’, tidak menutup kemungkinan ia akan menangis karena rindunya pada rasulnya itu. Lalu ia melantunkan lagu Bimbo, “Rindu kami padamu ya Rasul, rindu tiada terperi. Berapa jarak denganmu ya Rasul… Seakan engkau di sini…” lantas Muhammad ‘memeluk’nya dengan penuh kasih sayang kepada umatnya yang sedang bersholawat itu, dan si Salik pun menangis haru.

Keempat fenomena di atas merupakan contoh zikirullah yang bisa dirasakan pada realitas sehari-hari. Tentu masih banyak realita lain yang oleh masing-masing orang pasti berbeda dimensi ruang, waktu dan pengalaman empirik yang dialaminya.

Sebagai perantara yang memperkenalkan hakikat tuhan, Allah Swt dan Tauhid Islam kepada umatnya, Rasulullah Muhammad menjadi panutan bagi umat Islam karena figurnya yang benar-benar sempurna, baik dari sisi pemikiran, aqidah, lisan, pola hidup, keluarga dan lain-lain. Seraya umatnya berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan pada kami dengan perantara rasul-rasul Engkau dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji 194)“.

Prosesi Zikir: dari Absorbsi ke Iluminasi

Orang yang mendalami ilmu agama mempunyai kepekaan zikir yang masuk dari luar tubuhnya melalui jendela inderawi yang dilafalkan lisan, diresapi jiwa dan dimantapkan hati. Pada awalnya ia pasti membutuhkan buku, guru dan petunjuk lain. Dengan kata lain, ia masih pada tahap proses penyerapan ilmu. Tetapi jika ia telah menyadari dan menyerap energi zikir atau ilmu, maka ia pun harus bercahaya menurut hukum alam, seperti halnya eksperimen ilmiah soal pemagnetan antara besi oleh magnet di mana besi akan menjadi magnet; atau kasus ilmiah lain yaitu pencahayaan besi oleh api di mana besi akan membara dan bercahaya.

Beberapa tahapan zikir bisa dirangkumkan sebagai berikut:

Tabel 1. Prosesi Zikir

Prosesi zikirullah

Prosesi hasil zikirullah

1. dilafalkan oleh lisan

1. absorbsi (penyerapan)

2. penghayatan nalar dan nurani

3. perubahan sikap dan perilaku

2. illuminasi (pencahayaan)

4. perubahan pola pikir & berkehendak

 

Zikir tidak mutlak dilantunkan dalam bahasa Arab. Tetapi awalnya, mau tidak mau harus mempelajari dari sumbernya yaitu al-Qur’an yang diturunkan di Arab dan berbahasa Arab, karena maknanya memang dalam. Pada tahap selanjutnya, apresiasi bahasa Arab bisa ditransformasikan dalam bahasa setempat. Proses da’wah yang melibatkan bahasa dan budaya lokal pernah diterapkan Wali Songo, yaitu Sunan Kalijogo, ketika melantunkan tembang Ilir-Ilir dan kemampuannya berkesenian gamelan untuk menunjang da’wahnya di Tanah Jawa.

Ketika manusia suatu saat telah mengalami ‘kejenuhan hidup’, maka mereka berusaha mencari sarana yang bisa menenangkan jiwa, menyejukkan pikiran serta menyenangkan dan menenteramkan hati. Banyak manusia posmodernis mengukur segala kebahagiaannya dari sisi materi. Dengan banyak uang seakan ia mampu membeli segala bentuk hiburan-rekreasi untuk mengatasi ‘kejenuhan hidup’. Tetapi ketika mereka tidak menemukan kedamaian dan kebenaran hakiki di sana, maka ia beralih ke sisi immateri.

Konsekuensi Zikirullah

Banyak pengajian tasawuf modern mulai merambah masyarakat kota, baik di kalangan pejabat, penguasa, pengusaha dan selebritis untuk mencoba mengenal dunia sufistik. Upaya itu sangat baik dan sah saja. Tetapi selama mereka masih bersentuhan dominan dengan dunia materialis, mereka masih belum bisa merasakan nikmatnya zikir dan tenteramnya batin (hati) di dalam kelompok pengajian tasawuf.

Setiap individu harus mendalami materi pengajiannya, apalagi tasawuf, yang sesuai kemampuannya. Di dalam al-Qur’an tersedia ayat-demi-ayat sesuai kemauan dan kemampuannya. Kitab al-Qur’an sebagai Petunjuk dari Tuhan memang terbukti mu’jizat dari Tuhan bagi hamba-hamba-Nya yang mau mengkajinya secara teliti. Misalnya menyangkut konsekuensi zikirullah oleh para pelaku zikir
(muzzakkir).

Firman Tuhan pada QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 28,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (zikirullah). Ingat, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.28)

Zikirullah akan membawa implikasi ketenangan dan ketenteraman batin yang tidak bisa dijelaskan kata-kata. Masing-masing orang akan merasakan ketenangan dan ketenteraman yang berbeda tergantung apa yang dizikirkan dan karakter yang bersangkutan. Pemisalan kenikmatan merasakan zikirullah diibaratkan seperti buah-buahan yang masing-masing mengandung vitamin, atau seperti berbagai macam obat dan jamu dengan khasiat masing-masing.

Bisa jadi, kondisi yang demikian nikmat tersebut dikategorikan sebagai suatu keghoiban karena orang lain tidak atau belum bisa mengetahui dan merasakan kenikmatannya.

Beberapa tarekat mempunyai amalan zikir yang berbeda-beda. Hal itu amat memungkinkan karena pengalaman guru spiritual atau mursyid mereka yang berbeda-beda pula. Perbedaan ini hendaknya menjadi koleksi kekayaan mistikisme spiritual, bukan untuk diperdebatan di dalam seminar apalagi dipertentangkan menjadi konfrontasi antar kelompok.

Munculnya dugaan aliran sesat akan mudah dideteksi jika kelompok itu tidak bisa menerima keberbedaan, mengajar sesuatu di luar norma etika dan susila serta memicu keresahan masyarakat. Apa pun ajaran kelompok dalam frame holistik tauhid, mereka harus menebarkan kasih sayang kedamaian dan keselamatan bagi apapun dan siapapun. Itulah ciri kebenaran agama yang “berserah diri pada Tuhannya”.

Perbedaan zikir menyangkut bacaan dan jumlahnya, jawabannya adalah Firman Tuhan pada QS. 33. al-Ahzab (Golongan yang Bersekutu) 41-44,

“Hai orang-orang beriman, zikir (mengingat, menyebut nama) Allah, zikir sebanyak-banyaknya.41) Dan bertasbih pada-Nya di pagi dan petang.42) Dia memberi rahmat padamu dan malaikat-Nya (mohonkan ampun untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia yang Maha Penyayang kepada orang-orang beriman.43) Salam penghormatan kepada mereka pada hari mereka menemui-Nya ialah: “Salam” dan Dia menyediakan pahala mulia bagi mereka.44)

Telah jelas petunjuk ayat tersebut bahwa zikirullah sebenarnya tidak dibatasi, baik menyangkut jenis bacaan, jumlah bacaan hingga waktu untuk prosesi berzikir. Semuanya senantiasa tergantung kemauan, kemampuan dan kesempatan yang bersangkutan. Dengan cara-cara yang berbeda tetapi hakikatnya tetap sama, Tuhan pun mempunyai cara-cara berbeda di dalam mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya-Nya.

Merasakan zikirullah secara bertahap membuka misteri tabir demi tabir, hijab demi hijab yang menutupi hakikat hidup sebenarnya. Kesenangan semu dari masing-masing hawa nafsu yang tidak diridhoi Tuhan, perlahan namun pasti akan tersingkap sedikit demi sedikit. Pada waktu tertentu, yang dikehendaki Tuhan bagi hamba-Nya yang saleh, akan ditampakkan wujud asli kehidupan hakikinya. Pada waktu itulah masa pencerahan telah tiba. Ia telah mencapai inti-inti kebijakan kehidupan.

Puisi 7.

Jangan Tanya Jika…

Pertanyaan akan menghasilkan pertanyaan lagi

Adapun jawaban hanyalah bakal pertanyaan kemudian

 

“…Janganlah kamu tanya suatu hal yang jika diterangkan padamu,

niscaya akan menyusahkanmu.

Dan jika kamu tanya di waktu al-Qur’an diturunkan

niscaya akan diterangkan kepadamu…”

(QS. 5:101)

 

Walaupun demikian,kadang kala…

orang yang bertanya itu…

dan orang yang menjawab itu…

pura-pura tidak tahu,

atau berlagak sok tahu…

 

Bandung, 28.02.2004

(Sabtu, 7 Muharram 1425 H, 17.21 WIB, hari ke-7)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: