Bacalah 04. Perhitungan Tuhan

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Kepunyaan Allah yang ada di langit dan bumi

Dan jika kau lahirkan apa yang dalam hatimu atau menyembunyikannya

niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu

tentang perbuatanmu itu.

Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya

dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya

dan Allah Mahakuasa atas segala suatu. 284)

 

Rasul telah beriman pada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,

demikian pula orang-orang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,

malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya.

(Mereka berkata): “Kami tidak membeda-bedakan

antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”

dan mereka berkata: “Kami dengar dan kami ta’at”.

(Mereka berdoa): “Ampuni kami ya Tuhan kami

dan pada Engkau tempat kembali”. 285)

 

Allah tidak membebani seseorang selain sesuai dengan kesanggupannya.

Ia mendapat pahala (kebajikan) yang diusahakannya

dan mendapat siksa (kejahatan) yang dikerjakannya pula.

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami

jika kami lupa atau bersalah.

Ya Tuhan kami, jangan Engkau bebankan pada kami beban yang berat

Sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

Ya Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan pada kami

apa yang tidak sanggup kami memikulnya

Beri maaf kami; ampunilah kami rahmatilah kami.

Engkaulah Penolong kami,

maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. 286)

 

QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 284-286

 

 

DALAM Kitab al-Qur’an, Tuhan sering mengingatkan hamba-Nya dan disebut berulang-ulang bahwa kepunyaan Tuhan apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, yang dilahirkan maupun yang disembunyikan. Seruan ini membuktikan Kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Tetapi, peringatan yang berulang-ulang ini pun masih banyak manusia yang mengingkari; terutama akibat globalisasi dan modernisme yang menilai seruan ini klise dan hanya untuk umat terdahulu yang pengetahuannya kurang maju. Orang modern kini dengan kemajuan peradaban didukung iptek, terlalu sibuk pada globalisasi dan konsumerisme duniawi, daripada menghayati tatanan spiritualisme yang global-universal.

“Kepunyaan Allah yang ada di langit dan bumi. Dan jika kau lahirkan apa yang dalam hatimu atau menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatanmu itu…,”

Diawali “kepunyaan Allah yang ada di langit dan bumi”, maka secara mengerucut masalah difokuskan mulai dari alam semesta, bumi, manusia, organ hatinya hingga sampai ke dalam suatu rongga berukuran ultra kecil di dalam hati. Dari “rongga yang ghoib” itulah semua bisikan dan dorongan kehendak manusia berawal.

Bisikan hati yang sangat halus merupakan awal gerak tubuh dan pemikiran manusia. Mulai gerak fisik yang memerintahkan sel-sel darah menuju otak untuk bekerja, lalu keputusan diambil oleh tangan, kaki dan organ tubuh lainnya; hingga gerak pemikiran yang melahirkan ide-ide dan karya ilmiah besar positif maupun negatif bagi peradaban manusia.

Pelajaran, Pemikiran, Pertimbangan

Misteri “bisikan hati” sangat menarik dianalisa, meskipun ulasannya masih bersifat global karena keterbatasan ruang, waktu dan pemikiran yang relatif awam untuk menjelaskannya. Hati merupakan majelis tertinggi yang memutuskan segala ketetapan seluruh organ tubuh. Sebelum musyawarah dilakukan di dalam hati, hierarki stimuli dimulai dari penerimaan obyek secara empiris oleh mata yang dibantu oleh indera lainnya. Berbagai obyek yang masuk dikelola secara teknis oleh otak, dan dari hasil pengelolaan otak semuanya dilaporkan ke hati.

Ungkapan subyektif ketiga organ utama – yaitu mata, otak, hati – yang sangat mempengaruhi perkembangan tubuh dan jiwa, adalah: Pertama: “Segala apa yang ada di depan mata, terdapat pelajaran,” Kedua: “Segala apa yang ada di dalam otak, terdapat pemikiran,” Ketiga: “Segala apa yang ada di dalam hati, terdapat pertimbangan.”

Pertama, segala apa yang ada di depan mata terdapat pelajaran. Semua kejadian yang sangat sederhana hingga yang sangat kompleks pasti terdapat pelajaran di balik semua kejadian itu. Dan di balik pelajaran pasti terdapat hikmah di dalamnya. Jika seluruh kejadian dipaparkan dan dituliskan dalam kitab secara individu sejak manusia mulai memahami keadaan sekitar dan digabungkan dengan pengalaman orang lain sejak Nabi Adam hingga manusia terakhir; maka jika laut jadi tinta, seluruh pohon jadi pena dan hamparan alam semesta jadi kertas, ditambah sejumlah itu lagi, maka “pelajaran” di depan mata sebagai ayat Tuhan tidak akan selesai dituliskan.

Kedua, segala apa yang ada di dalam otak terdapat pemikiran. Pada proses ini yang sangat menonjol adalah analisa logika. Jika analisa proses kedua ini ditambahkan pada tahap pertama, akan lebih tidak terhingga lagi jumlah kitab yang terjadi. Menuliskan satu keadaan saja membutuhkan sekian banyak media, tenaga dan pikiran; apalagi ditambah dengan paparan analisanya. Dari berbagai analisa logika yang sangat panjang, belum lagi ditambah banyaknya berbagai alternatif, maka optimalisasi “pemikiran” otak akan memungkinkan pengambilan keputusan secara logis.

Ketiga, segala apa yang ada di dalam hati terdapat pertimbangan. Bisikan hati bukan bekerja mencari kesimpulan secara logis yang sudah ditangani otak. Tetapi fungsi hati adalah mempertimbangkan kesimpulan otak dan mengambil keputusan yang menekankan pada fungsi moral, akhlaq dan keadilan dari sisi kemanusiaan-ketuhanan. Yang menarik dari makna “pertimbangan” di dalam hati seperti gelombang berbuih di samudera luas menerpa garis pantai. Untuk berkehendak setelah melalui pertimbangan hingga sampai keputusan menjawab “ya” dan “tidak” tenggang waktunya sangat tipis. Tetapi waktu yang sepersekian detik itu akan mempengaruhi tindakan besar selanjutnya dan dampak luas yang diakibatkannya. Tenggang waktu mengambil keputusan (tindakan) dan keadaan yang bergejolak dalam hati ini jika bisa dibayangkan akan sangat menarik. Sebab di dalamnya terjadi konflik saling bertentangan, melibatkan dan mempengaruhi, konflik antara suara “setan” yang mewakili keburukan dan suara “malaikat” yang mewakili kebaikan.

Seperti disebutkan di atas, bahwa langit dan bumi adalah milik Tuhan, termasuk manusia dan hatinya. Maka apa saja yang tersimpan di dalam hati dan gejolak di dalamnya, baik diucapkan atau dilahirkan maupun disimpan atau disembunyikan, Tuhan pasti mengetahui. Sebab Tuhan mengetahuinya, manusia hendaknya senantiasa mengikatkan diri kepada-Nya agar segala keputusan yang diambil bersumber dari Kebenaran Tuhan.

“…Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahakuasa atas segala suatu. 284)

Dari proses pengambilan keputusan, ilmu manusia sedang diuji. Jika ada khilaf di luar kemampuannya, Tuhan akan mengampuninya. Tetapi jika sengaja memutuskan kezaliman, hukum sebab-akibat akan menyiksanya akibat keputusan yang membawa kemudharatan bagi sesama manusia dan lingkungannya.

Hakikat kehidupan sebenarnya tiada berbatas. Semuanya telah tercatat di dalam Kitab Induk atau Kitab Nyata Lauh Mahfuzh berdasarkan causality (hukum sebab-akibat). Tuhan membuat perhitungan sangat teliti mulai tahap awal perbuatan manusia yang didasari oleh bisikan hati. Perhitungan ini sangat detail dan terperinci yang tidak mampu terdeteksi oleh komputer secanggih apa pun. Inilah keadilan mahasempurna dari suatu perhitungan keseimbangan (equilibrium) sebagai representasi dari Sang Mahaadil.

Konsekuensi Iman

“Rasul telah beriman pada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman. Semuanya iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata) “Kami tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” dan mereka berkata: “Kami dengar dan kami ta’at”. (Mereka berdoa): “Ampuni kami ya Tuhan kami dan pada Engkau tempat kembali. 285)

Keimanan menurut QS 2:284-286 di atas dibagi menjadi iman kepada: (1) Tuhan, (2) Malaikat, (3) Kitab, (4) Rasul-Nya. Tetapi hakikat keimanan tidak sekedar “keimanan klasik” seperti apa yang telah diajarkan di sekolah, yang terdiri enam (6) rukun, yaitu beriman kepada: (1) Allah, (2) Malaikat, (3) Rasul/Nabi, (4) Kitab, (5) Hari Akhir, dan (6) Takdir.

Pada surat atau ayat lain dalam al-Qur’an, banyak rukun dan tindakan yang menjelaskan hakikat keimanan dan ketaqwaan yang menyatu dengan kebaktian dan amal saleh. Salah satunya adalah sikap amaliah, perilaku dan akhlaq terhadap sesama. Beberapa ayat al-Qur’an yang menjabarkan hakikat ketaqwaan dan keimanan adalah:

Definisi ketaqwaan pada QS 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 1-10 yang meliputi definisi keimanan, yaitu:

(1) iman kepada yang ghaib,

(2) mereka yang mendirikan shalat,

(3) menafkahkan sebagian rezki,

(4) iman kepada Kitab (al-Qur’an) dan Kitab-Kitab sebelumnya,

(5) yakin adanya akhirat, dan

(6) tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya.

Definisi keimanan menurut QS 2:165 adalah perasaan seorang hamba yang amat sangat cintanya kepada Tuhan. Definisi keimanan pada QS 2:172, yaitu (1) memakan rezki yang baik-baik yang Tuhan berikan pada manusia, (2) bersyukur pada Tuhan jika benar-benar pada Tuhan ia menyembah.

Definisi kebaktian menurut QS 2:177 juga meliputi iman dan taqwa, yaitu: (1) beriman pada Tuhan, Hari Akhir, malaikat, kitab, nabi, (2) memberikan harta yang dicintai pada kerabat, anak yatim, orang miskin, musyafir (orang dalam perjalanan jauh) yang perlu pertolongan dan pengemis, (3) memerdekakan budak, (4) mendirikan shalat, (5) menunaikan zakat, (6) orang yang menepati janji jika ia telah berjanji, (7) orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam perang.

Masih banyak ayat yang mengungkapkan keterkaitan keimanan, ketaqwaan, kebaktian dan amal saleh. Untuk detail hakikat iman dan taqwa dijabarkan pada Kajian 49: Iman dan Taqwa.

Hakikat iman dan taqwa terkait kebaktian dan amal saleh. Jadi, keempat unsur tersebut tidak berdiri sendiri. Orang mengaku: Iman, konsekuensinya taqwa, berbakti dan beramal saleh; Taqwa, konsekuensinya iman, berbakti dan beramal saleh; Berbakti, konsekuensinya iman, taqwa dan beramal saleh; Amal saleh, konsekuensinya iman, taqwa dan berbakti.

Keempat unsur di atas mempunyai sub unsur yang lebih terperinci. Kesimpulan sementara dari semua unsur dan sub-unsur iman, taqwa, berbakti dan beramal saleh adalah bentuk manifestasi Cinta kepada Tuhan.

Keterkaitan satu sifat dengan sifat yang lainnya seperti halnya sifat-sifat al-Asmaaul Husna yang saling terkait satu sama lain. Misalnya, jika orang berusaha menghayati sifat Mahaadil, ia juga harus mampu bersikap sabar terhadap mereka yang berbeda. Untuk itu ia juga harus menghayati sifat Mahasabar. Dengan kesabaran itu, suatu saat ia akan melihat bagaimana Tuhan meluaskan dan menyempitkan hati seseorang di dalam menerima Kebenaran-Nya. Pada saat itu ia akan menghayati Maha Meluaskan serta Maha Menyempitkan. Arti meluaskan dan menyempitkan bisa berupa zat lahir maupun batin. Pada saat ini ia berusaha menghayati Mahalahir dan Mahabatin. Dengan demikian, jika diteruskan akan menjadi kesatuan sifat yang mengarah Dzat yang Mahatunggal, Allah Swt, Tuhan yang Mahaesa.

Hakikat iman, taqwa, berbakti dan amal saleh beserta sub-unsur yang ada didalamnya adalah sifat-sifat mulia yang akhirnya bermuara kepada satu sikap berserah diri (‘aslama). Tetapi bekal paling awal ketika manusia hendak lahir ke dunia adalah taqwa yang telah diikatkan kepada jiwanya sejak “sebagian” Ruh-Nya ditiupkan pada saat ruh akan bersenyawa dengan janin atau saat ia sudah menjadi janin yang bernyawa di dalam rahim ibunya.

Firman Tuhan pada QS. 5. al-Maa-idah (Hidangan) 7,

“Dan ingat karunia Allah padamu dan perjanjian-Nya telah diikat-Nya denganmu, saat kamu katakan: “Kami dengar dan kami ta’ati” dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati(mu)”.

“Dan (ingat) saat Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (dan berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu”. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan demikian) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS. 7:172)

Dengan demikian, modal awal manusia sebelum lahir ke dunia sudah mempunyai ikatan batin dan bekal tauhid untuk menjaga dan memelihara keimanan mereka sebagai inti dari makna taqwa. Semua manusia mengalami “perjanjian tauhid”. Akan menjadi persoalan jika kehidupannya di dunia ia mempermasalahkan “baju taqwa”, bukan pemikiran dan perbuatan taqwa. Akan terjadi perdebatan panjang dan argumen tanpa akhir, memungkinkan terjadi perang demi dan membela Tuhan; padahal Tuhan tidak perlu dibela. Semua malapetaka itu harus diakui kesalahan Ahli Kitab yang telah dikotori kedengkian antara yang satu dengan yang lainnya.

Salah satu yang juga termasuk kriteria iman adalah konsekuensi global yang “tidak membeda-bedakan antara seorangpun (dengan yang lainnya) dari rasul-rasul-Nya”. Jumlah rasul yang tertulis di dalam sejarah umat Islam adalah tertentu. Belum lagi yang tidak tertulis. Belum lagi jumlah rasul bagi umat lainnya “sebelum Islam”. Belum lagi jumlah rasul-rasul “di luar” Arab. Kata “rasul” amat luas maknanya, yaitu siapa pun “utusan” yang menerima kebenaran hakiki dan ditugaskan menyampaikan kepada umat manusia.

Sikap orang beriman dan bertaqwa yaitu tidak membeda-bedakan antara rasul dengan rasul yang lain. Perbedaan hanya pada dimensi ruang-waktu yang dipengaruhi budaya. Nabi Muhammad, rasul paripurna, ajarannya menjadi kesimpulan seluruh ajaran tauhid yang pernah diturunkan Tuhan. Nabi Muhammad tidak pernah menjelekkan atau menyalahkan umat lain, karena kebenaran universalnya menerima perbedaan semua pihak di dalam “khazanah tauhid yang beragam namun tunggal”.

Mengabdi sesuai Kemampuan

“…Allah tidak membebani seseorang selain sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (kejahatan) yang dikerjakannya pula…”

Karena Tuhan mengetahui isi hati dan kemampuan manusia, maka Dia takkan membebani di luar kesanggupannya. Jika manusia merasakan cobaan terlalu berat, harus yakin cobaan pasti teratasi jika selalu mengikat diri pada Tuhan dengan berusaha dan berdoa. Pengertian “tidak membebani seseorang selain sesuai kesanggupannya”, juga bisa melandasi teori manajemen bagi diri sendiri maupun organisasi. Artinya, seorang harus tahu kualitas produk yang bisa dihasilkan berdasar kemampuannya. Pemimpin harus mengetahui kemampuan bawahan, mengalokasikan tenaga dan kemampuan bawahannya untuk menjalankan visi-misi organisasi untuk mencapai cita-cita bersama.

Lain lagi bagi sufi yang mencermati ayat ini. Doa para sufi tidak untuk meminta materi, karena Tuhan lebih tahu yang ia butuhkan. Para sufi yang berpendapat seperti ini, muatan zikirnya hanya puji-pujian dan penghayatan akan Sifat Tuhan yang dibenamkan ke dalam dirinya.

…(Doa mereka): “Ya Tuhan kami, jangan Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Tuhan kami, jangan Engkau bebankan pada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, jangan Engkau pikulkan pada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaf kami; ampunilah kami rahmati kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” ***

 

Puisi 4.

Biarlah…

“Orang lain tiada tahu apa yang diminta

Segala kerja dan usaha ia berharap kaya dan kuasa

Begitupun puasa dan doa ia berharap surga

Meski ia makin tak tahu hakikat ‘diri’nya dan ‘Diri’-NYA…

 

Biarlah aku memuji-Mu sepuas hatiku,

Biarlah Engkau beri apa saja padaku sekehendak-Mu.

Termasuk jika Engkau tiada memberi apa pun padaku

Karena aku sudah cukup puas di dalam-Mu”

 

Biarlah… aku sudah cukup puas di dalam-Mu

 

Jakarta, 25.07.2001

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: