Bacalah 03. Kursi Tuhan

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

ALLAH,

tiada Ilah selain Dia yang hdup kekal,

lagi terus menerus mengurus (makhlukNya);

tidak mengantuk dan tidak tidur.

Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.

Siapa yang dapat memberikan syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya?

Allah mengetahui apa-apa yang di depan dan di belakang mereka.

Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah,

selain dari yang dikehendaki-Nya.

Kursi Allah meliputi langit dan bumi.

Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya,

dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar. 255)

 

QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 255

 

dan tidak ragu-ragu. Ayat tentang hakikat Diri-Nya biasanya diawali dengan memperkenalkan Diri-Nya seakan-akan berfirman “Akulah Allah”
yang diikuti Sifat-Sifat-Nya. Karena Sifat-Sifat-Nya yang tidak terbatas di dalam berbagai hal, maka Tuhan sering menggunakan berbagai perumpamaan (tamsil), karena semua makna harfiah memang tidak mampu lagi menjelaskan keberadaan-Nya…

Definisi Tuhan

Ayat Kursi merupakan salah satu ayat al-Qur’an yang berusaha “mendefinisikan” Tuhan. Tetapi ayat ini penjelasannya masih dominan secara harfiah, terutama menyangkut Kekuasaan-Nya yang disebut sebagai “Kursi” sebagai simbol atau perlambang kekuasaan mutlak. Banyak riwayat yang menjelaskan khasiat Ayat Kursi jika dizikirkan sejumlah tertentu dan waktu-waktu tertentu.

Ayat-ayat yang “mendefinisikan” Tuhan banyak dipercaya mengandung khasiat metafisik. Tetapi kajian ini sekali lagi tidak berorientasi seperti itu. Kajian ini lebih memberdayakan potensi akhlaqul karimah, sifat ‘aslama, sehingga khasiat itu dikembalikan menjadi urusan Tuhan. Karena dengan hati yang bersih dan jiwa yang tenang (muthma’inah), Tuhan pun akan menurunkan karomah atau mu’jizat yang bentuknya terserah Tuhan.

Pada maqam mulia seperti Nabi Muhammad, tidak mengamalkan ayat untuk tujuan selain tauhid. Akhlaq mulianya secara alami membangkitkan “energi” dan membawa efek seperti kesaktian. Misalnya, konon, sebuah riwayat mengisahkan ketika Nabi tiba-tiba diancam pedang terhunus oleh seorang musuhnya. Lalu ditanyakan pada beliau, “Sekarang, siapa yang akan menolongmu?” Nabi menjawab, “Allah.” Mendengar asma
Allah dari mulut Nabi yang suci, serta merta musuh itu tergetar dan pedangnya terjatuh.

Jika telah terbentuk sosok pribadi suci seperti Nabi atau para auliya, maka Cinta pada Tuhan adalah segala-galanya. Membaca ayat yang tersurat di al-Qur’an bagaikan membaca surat cinta dari Sang Kekasih, bukan untuk tujuan yang lain, karena tidak menutup kemungkinan setan akan menyusup pada bacaan-bacaan yang disalah-gunakan itu.

Definisi Tuhan mengantarkan pemahaman manusia pada Sejarah Tuhan – History of God – menurut berbagai pengertian umat terdahulu dan dari berbagai agama sebagai produk kultural. Sasaran penelitian juga diarahkan pada umat Islam di dalam mendefinisikan “Allah” dan sejarah umat Islam. Kesalahan di sini menempatkan manusia justru sebagai Tuhan dan Tuhan sebagai obyek penelitian manusia. Akibatnya timbul berbagai interpretasi, berpeluang sesat dan mengaburkan perjalanan manusia menuju Tuhannya.

Kitab Suci al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana menyikapi berbagai pertanyaan tentang Tuhan. Jawabannya tidak melalui penjabaran definisi dan sejarah panjang berbelit; tetapi kembali pada Kajian 2: Dekatnya Tuhan.

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 186,

“Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang mendoa jika ia berdoa pada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman pada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.186)

Jawaban itu terkesan sederhana, sesederhana sabda Nabi Muhammad, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu” tetapi mempunyai penjabaran yang tak terhingga. Untuk menjabarkannya pun tidak harus ditulis tekstual, tetapi diterapkan melalui amal ibadat dan perilaku seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad. Jadi dengan seijin Tuhan, orang berserah diri secara benar atau ‘aslama akan mengerti dengan sendirinya tentang hakikat Tuhan.

Seperti halnya ibadat sholat, puasa, zakat dan haji; bisa saja dijelaskan secara detail menjadi tumpukan kitab-kitab. Tetapi yang terpenting adalah melaksanakan dengan hati bersih dan jiwa tenang. Membaca teori tidak akan pernah habis. Demikian pula “teori tentang Tuhan”, proses pembelajarannya, pemahaman dan penghayatannya.harus berupaya berperilaku mulia seperti pada Sifat-Sifat Tuhan itu sendiri seoerti pada al-Asmaaul Husna.

Ayat Kursi yang membuka ayatnya dengan lafal “Allah”, tetapi intinya menjelaskan “Kursi Allah” yang menggambarkan Kekuasaan dari Suatu Dzat Tertinggi yang disebut manusia sebagai “Tuhan”. Selain Ayat Kursi yang didahului lafal “Allah”, maka QS 24:35 atau ayat Misykat Cahaya juga menjelaskan hakikat ketuhanan “Allah” yang diikuti dengan hakikat tentang Diri-Nya berupa perumpamaan-perumpamaan.

Upaya mengenali Tuhan secara tersurat melalui Kitab Suci al-Qur’an harus memadukan semua ayat terkait dengannya, baik ayat tersurat maupun ayat tersirat. Jadi pemahamannya tidak sepenggal-sepenggal. Selain itu, juga harus disertai amal lain seperti puasa, amal saleh dan lain-lain.

Kesetiaan Tuhan

“Allah, tiada Ilah selain Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya); tidak mengantuk dan tidak tidur…”

Ini membuktikan Kedekatan Tuhan yang tiada berdimensi seperti pada Kajian 2: Dekatnya Tuhan, sekaligus bukti Cinta Tuhan yang tulus ikhlas tidak terbatas pada hamba-Nya. Dia menciptakan, Dia bertanggung jawab, Dia yang memelihara, Dia yang menuntun, Dia yang segala-galanya. Tetapi, banyak manusia tidak menyadari dan terbius setan berupa jin dan manusia untuk melupakan-Nya.

Tuhan terus menerus mengurus mahluk-Nya, baik melalui malaikat-Nya maupun secara langsung oleh Tuhan sendiri. Mahluk, termasuk manusia, yang sedang tidur pun, Tuhan setia – beserta malaikat-Nya – terus-menerus mengawasi dan menjaganya. Adapun yang dimaksud “Allah mengurus secara langsung mahluk-Nya tanpa perantara malaikat”, menurut hadits Nabi salah satunya ditujukan bagi hamba-Nya yang sedang berpuasa.

Nabi Muhammad telah meriwayatkan dalam suatu hadits qudsi yang menyatakan bahwa Tuhan berfirman, “Semua amal perbuatan Bani Adam menyangkut dirinya pribadi, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku, dan karena itu Aku yang langsung membalasnya…” (HQR Baghawi).

Karena puasa itu sifatnya “harus” rahasia dan hanya diketahui oleh yang bersangkutan dan Tuhan. Dari sisi hitungan pahalanya akan diberikan atau urusan langsung dari Tuhan. Tetapi jika orang yang sedang melakukan usaha pencarian diri dan menghayati inti-inti kebijakan melalui puasa, setelah ia merasakan kedekatan Tuhannya, ia tak lagi berharap pahala. Puasanya hanya untuk Tuhan, bukan berharap pahala, masuk surga dan terhindar dari neraka. Puasanya sebagai salah satu sarana ibadat. Ia semata-mata mengharapkan Ridho dan Cinta Tuhan. Dengan demikian ia berharap bisa “bercengkerama” secara langsung dengan Tuhan. Ia berusaha membalas Kesetiaan Tuhan yang terus-menerus mengurus mahluk-Nya, termasuk dirinya. Ia tidak lagi berharap apakah “dimasukkan” ke surga dan dihindarkan dari neraka? Ia hanya berharap Ridho-Nya. Hakikat puasa dijelaskan lebih detail pada Kajian 36: Tentang Puasa.

Tentang kesetiaan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya, orang-orang yang menyekutukan Tuhan (musyrik) pernah berkata kepada Nabi Muhammad, yaitu ketika turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad terhenti sementara; “Tuhannya (Muhammad) telah meninggalkannya dan benci kepadanya.” Maka turunlah ayat yang menjawabnya.

Firman Tuhan pada QS. 93. adh-Dhuhaa 3,

“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu”

Kesetiaan Tuhan yang mampu dicerna logika pasti tidak akan mampu dibalas kesetiaan manusia yang sering mengkhianati-Nya. Bahkan, hanya dengan Ridho-Nya pula manusia bisa membalas kesetiaan-Nya meskipun sangat sedikit dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kesetiaan Tuhan terhadap mahluk-Nya, termasuk manusia.

Ini salah satu dari tidak terhingga Kedekatan dan Kasih-Nya terhadap mahluk-mahluk ciptaan-Nya. Dijaganya semua keseimbangan, mulai dari menciptakan, bertanggung-jawab, memelihara, menuntun dan seterusnya secara sempurna melalui para “staf” malaikat-Nya yang setia mengabdi pada Tuhan dengan tidak lalai sedikit pun melaksanakan tugasnya.

Status Kepemilikan

“… Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapa yang dapat memberikan syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya…”

Dengan memahami sifat Tuhan yaitu Yang Maha Memiliki (al-Maliku), akan disadarinya bahwa segala sesuatunya, dan segala-galanya milik Tuhan. Apa yang di langit dan di bumi adalah “sebagian kecil” milik Tuhan.

Surga dan neraka milik Tuhan. Tiadalah artinya surga dan neraka jika dibandingkan dengan Tuhan sebagai Pemiliknya. Pada tataran masyarakat awam di dalam ibadatnya, masih tersaji janji sejumlah pahala dan surga – tanpa disadari ia jauh dari maqam CINTA atau Mahabbah.

Firman Tuhan pada sebagian QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 165,

“…Adapun orang-orang beriman, sangat cinta kepada Allah…165)

Akan lebih nikmat, khusyu’ dan ikhlas jika ibadat dilandasi atas dasar cinta kepada Tuhan, karena Tuhan menetapkan atas Diri-Nya Kasih-Sayang, seperti Firman-Nya pada QS. 6. al-An’aam (Binatang Ternak) 12 dan 54 yang dibahas di akhir Kajian 09: Kun Fayakun.

Memahami dan menghayati zikir
al-Maliku akan melepaskan status kepemilikan manusia. Ibadat berharap pahala dan surga, menurut kajian sufis bisa dikategorikan hijab halus yang menghalanginya mencapai mahabbah dan ma’rifatullah. Jika semua milik Tuhan, termasuk pemberian syafa’at, maka apa yang bisa dimiliki manusia?. Hasil kerjanya berupa kedudukan, jabatan, harta kekayaan serta status prestise yang disandangkan padanya oleh manusia lain yang tidak tahu-menahu hakikat; adalah sia-sia di mata Tuhan selama ia melupakan Tuhannya yang menganugerahkan itu semua.

Manusia tidak berhak mengklaim suatu kepemilikan!

“…Allah mengetahui apa-apa yang di depan dan di belakang mereka. Dan mereka tidak tahu apa-apa dari ilmu Allah, selain dari yang dikehendaki-Nya..”

Dengan memahami sifat Tuhan yang Maha Mengetahui (al-‘Aliimu), akan disadarinya bahwa Tuhan Maha Mengetahui sesuatu, segala-galanya. Semua ilmu pengetahuan adalah milik Tuhan, termasuk sebagian kecil ilmu yang dianugerahkan kepada manusia.

Pada penggalan ayat Kursi tersebut telah ditegaskan bahwa Ilmu Tuhan meliputi segala-galanya, sedangkan manusia tidak mengetahui apa-apa soal pengetahuan sedikitpun selain dikehendaki-Nya. Tetapi banyak manusia yang ingkar dengan kesombongan sedikit intelektualnya.

Makna “apa saja yang ada di depan dan di belakang mereka”, bisa berarti harfiah secara fisik yaitu di depan dan di belakang tubuh mereka, tetapi bisa pula berarti kiasan, yaitu: (1) masa depan dan masa lalu, dan/atau (2) yang tampak dan yang tersembunyi. Sehingga Pengetahuan Tuhan juga meliputi segala sesuatu yang “ada” maupun “tiada” menurut pengetahuan manusia dan meliputi segala dimensi tanpa batas ruang dan waktu.

Sebetulnya manusia sama sekali tidak mengetahui apa-apa, selain yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan kata lain, eksistensi ilmu manusia sebenarnya hanyalah “kehampaan” jika Tuhan tidak memberikan sedikit ilmu kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Manusia tidak berhak mengklaim suatu pengetahuan!

Firman Tuhan pada QS. 34. Saba’ (Kaum Saba’) 1-2

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.1) Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar dari padanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik padanya. Dan Dia yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. 2)

“Kursi” itu Kekuasaan Mutlak

“…Kursi Allah meliputi langit dan bumi…”

Penggalan ayat ini terdiri dari dua bahasan tentang makna Kursi Tuhan, yaitu (1) bumi secara fisikal yang terbatas pada dimensi metrik atau ukuran, dan (2) langit tidak terbatas karena tidak punya batasan, ujung dan tepi.

Bumi secara visual sangat kecil dibanding tata surya dan keseluruhan jagat raya yang terdiri dari tak berbilang galaksi dan dimensinya. Ditinjau dari bumi dan seisinya yang mengandung beragam kekayaan alam itu, sudah membuktikan Kekuasaan Tuhan yang terhampar nyata di setiap sudut bumi, di permukaan dan di dalamnya.

Kekayaan alam yang terpampang di atas permukaan bumi menunjukkan indahnya Penciptanya dipandang mata. Burung-burung yang indah warnanya dan terbang lincah mengepakkan sayapnya, mengarungi angkasa menembus awan bertasbih memuji Tuhannya atas rejeki yang dilimpahkan pada hewan terbang bersayap itu. Sementara itu, tumbuhan dan gunung tertancap dengan kokoh masuk ke bumi dan ujungnya seakan menggapai langit, menyimpan kekayaan yang bemanfaat bagi manusia. Sebagian “kaki” Kursi Tuhan yang tampak di bumi ternyata sudah tidak mampu manusia melihat lebih ke atas yaitu ke langit. Dengan ketidak-terbatasan itu, “..Tuhan tidak merasa berat memelihara keduanya dan Tuhan Mahatinggi lagi Mahabesar”.

Pengertian lain makna “Kursi Tuhan” bisa dikiaskan dari “miniatur” jasad manusia yang terdiri dari: badan, tubuh, jasmani yang secara fisikal terbatas pada metrik atau ukuran, dan jiwa, ruh, logika, intelektual yang secara metafisikal tidak terbatas pada metrik atau ukuran.

Jasad, badan dan tubuh yang terlihat mata memang terbatas dari ukuran dimensi dan kemampuan fisiknya. Juga lemah dibandingkan hewan seperti singa dan gunung. Tetapi ruh, ide, logika, intelektual lebih hebat dari mahluk ciptaan Tuhan yang secara fisik lebih kuat. Dengan intelektualnya, manusia bisa mengalahkan singa, meledakkan gunung dan menghancurkan dunia dengan nuklir! Jika manusia sombong akan kemampuannya itu, muncullah “tuhan-tuhan kecil” semacam fir’aun di masa lalu dan kekuatan politik, militer, ekonomi dan teknologi negara adi-daya pada masa kini.

Bagi seorang yang arif dan bijaksana, “mencari Tuhan” bukan melalui pengamatan eksternal secara astronomi menjangkau jauh ke alam semesta, galaksi dan jagat raya; karena pasti takkan selesai meskipun hanya pada tepi langit pertama. Bukan pula meniadakan-Nya karena logika dan intelektual tidak bisa membuktikan eksistensi-Nya.

Titik-titik pengamatan visual dan jalur penjajagan intelektual ternyata tidak bermuara ke otak dan kepala. Tetapi akhir jalur penjajagan bermuara ke hati nurani. Pengamatan visual jauh ke luar harus masuk ke dalam (internalisasi) jauh ke dalam hati nurani, memahami gerak hati termasuk otak dan jantung serta potensi manusia secara keseluruhan, lahir dan batin.

Semua upaya itu, jika dikomparasikan dengan Surat-Surat Cinta dari Tuhan yang terdokumentasi di dalam Kitab Suci al-Qur’an, haruslah match. Dengan demikian totalitas kehidupannya akan membuktikan seluruh kebenaran Firman Tuhan di dalam Kitab-Nya. ***

 

Puisi 3.

Hanya dengan Izin-NYA

 

Tiada yang dapat memberi syafa’at tanpa izin-Nya.

Tiada segala sesuatu terjadi tanpa izin-Nya.

Tiada alam semesta bergerak tanpa izin-Nya.

Tiada detak jantung berdetak dan napas sesak tanpa izin-Nya.

 

Semua ada dan tiada hanya dengan izin-Nya

 

Jakarta, 07.08.2001

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: