Bacalah 02. Dekatnya Tuhan

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu soal Aku,

maka (jawablah) bahwa Aku dekat.

Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa

jika ia berdoa kepada-Ku,

maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku,

dan hendaklah mereka iman kepada-Ku,

agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 186)

 

QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 186

 

 

“JIKA hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu soal Aku, maka (jawablah) bahwa Aku dekat…”

Ya, Tuhan sangat dekat! Bahkan lebih dekat dari apa yang diperkirakan manusia di dalam pengertian “dekat” menurutnya; apakah berjarak sekian nano-meter dari kulit ari atau dari mata hati, atau menempel, atau menyatu? Tetapi kedekatan itu hanya berlaku untuk mereka yang mau dan mampu mendekat dan didekati. Karena, tidak semua orang yang mau dan mampu mendekat dan didekati. Sedangkan jika sudah ada kemauan pun, masih harus dipertanyakan bagaimana kemampuan terutama dari sisi kesucian jiwa dan ruhani yang dimilikinya. Bagi mereka yang telah mau mendekat pun akan dirtanyakan seberapa besar energinya untuk bisa mencapai-Nya. Sementara bagi mereka yang mau di dekati akan ditanyakan seberapa besar energinya untuk bisa menerima-Nya.

Dekat dan Jauh Tiada Terkira

Jika sudah memahami Tuhan itu dekat, pemahaman selanjutnya akan berkembang bahwa Tuhan bahkan lebih dekat kepada hamba-hamba-Nya daripada kedekatan hamba-Nya kepada Tuhan, baik fisik maupun metafisik.

Firman Tuhan pada QS. 50. Qaaf 16,

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan hatinya dan Kami lebih dekat padanya dari urat lehernya,16)

Kemudian dijelaskan pada QS. 50. Qaaf 17-18; “(yaitu) saat 2 malaikat mencatat amalannya, satu duduk di kanan dan lainnya di kiri.17) Tiada suatu ucapan pun selain ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.18)

Tafsir ayat itu menjelaskan dekatnya Tuhan yang ‘diwakili’ 2 malaikat yang jaraknya lebih dekat daripada urat leher manusia. Hubungan itu masih dengan dua malaikat-Nya. Apalagi jika diukur dengan Tuhannya yang pasti akan jauh lebih dekat “tak berdimensi” terhadap manusia di mana “sebagian” Ruh Tuhan telah bersemayam di dalam qalbunya, di dalam rahim ibunya, beberapa bulan sebelum ia lahir ke dunia. Perumpamaan kedekatan Tuhan dengan hamba-Nya yang mau mendekat dan didekati adalah dengan tamsil mengemukakan pertanyaan, apakah kedekatan hamba dengan Tuhan mampu diibaratkan seperti bunga dengan aromanya?

Jika dekatnya Tuhan tidak bisa dicerna logika, maka negasinya yaitu jauhnya Tuhan bagi mereka yang ingkar juga tidak bisa dicerna oleh logika. Mereka tidak mau mendekat dan didekati. Perumpamaan jauhnya mereka dari Tuhannya juga seperti tamsil pertanyaan, apakah jauhnya hamba dengan Tuhan bisa diibaratkan antara jauhnya timur dengan baratnya?

Jika ada seorang hamba awam bertanya, “Bagaimana berdoa kepada Tuhan yang sangat dekat tak terhingga, apakah cukup dibatin karena Tuhan lebih dekat dari urat leher?” Ternyata ajaran Islam bukan sekedar kebatinan, tetapi doa harus diucapkan lisan serta diupayakan dengan fisik, pengetahuan dan kemampuan yang diridhoi Tuhan. Doa yang biasanya dimunajatkan pada sholat dan sesudahnya itu dilafalkan dengan suara yang cukup didengarkan dirinya sendiri.

Firman Tuhan pada QS. 17. al-Isra’ (Perjalanan Malam Hari) 110,

Katakan: “Serulah Allah atau ar-Rahman. Dengan nama-nama yang mana yang kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaaul Husna dan jangan mengeraskan suaramu di dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.110)

Hakikat kedekatan Tuhan kenyataannya tidak sesederhana dekatnya fisik secara harfiah. Makna “pengenalan” terhadap Tuhan melalui banyak tahapan yang kompleks. Misalnya melalui “perantara” kitab dan rasul, terutama kajian tasawuf seperti ungkapan mendalam yang bisa diterima oleh semua pemeluk agama, yaitu, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu; Barangsiapa mengenal dirinya, maka kenallah ia akan Tuhannya”

Penuhi Perintah-Nya

“…Aku kabulkan permohonan orang-orang yang berdoa jika ia berdoa kepada-Ku,..”

Tuhan akan mengabulkan doa seseorang jika ia berdoa kepada-Nya. Tetapi berdoa pun ada aturan yang harus dipenuhi, tidak sembarang berdoa dan meminta apa saja yang dikehendakinya. Mulai persiapan, isi doa hingga usahanya harus dilakukan secara benar.

Firman Tuhan pada QS. 13. ar-Ra’d (Guruh) 14,

“Hanya bagi Allah (hak mengabulkan) doa yang benar…14)

Demikian juga dengan hakikat sabar; harus sabar yang baik.

Firman Tuhan pada QS. 70. al-Ma’aarij (Tempat-Tempat yang Naik) 5,

“Maka sabarlah kamu dengan sabar yang baik.5)

Kembali pada penggalan ayat di atas, kalimat ini mengandung dua kriteria sebagai realisasi al-Fatihah ayat ke-5, “hanya kepadaMu kami menyembah, hanya kepada-Mu kami memohon”, yaitu :

Pertama, menyembah Tuhan melalui ibadat secara murni, konsekuen dan menurut aturan yang benar (konsisten), baik aturan yang tesurat maupun yang tersirat, yang tercermin dari sikap dan perilakunya. Kebanyakan orang hanya membutuhkan Tuhan pada saat terhimpit dan dalam keadaan susah. Tapi pada waktu luang dan dalam keadaan senang, banyak yang lalai meski Tuhan pun tetap “tenang-tenang saja”. Fenomena ini banyak disebut dalam al-Qur’an. Mereka yang ibadatnya terkategori seperti ini pasti tendensius untuk selain Tuhan. Ia pamrih dan bercampur riya’. Ibadatnya belum murni sebagai kebutuhan, kewajiban sekaligus kenikmatan batin manakala akan, sedang dan selesai ia “berhubungan” dengan Tuhannya di dalam kemurnian ibadat. Kegiatan ibadatnya hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Bagi manusia yang belum mau dan belum mampu beribadat secara murni dan benar pun, Tuhan masih memberikan sifat ar-Rahmaanu, bahkan termasuk kepada orang-orang ingkar. Mereka yang sekuler, sebagian besar ingkar, kebanyakan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Seluruh isi dunia mungkin mampu dikuasai dengan kecanggihan teknologi dan manajemen. Tetapi bagi mereka itu belum mendapatkan ar-Rahiim yang sifatnya lebih khusus karena sifatnya lebih pribadi, jauh lebih “nikmat”.

Kedua, memohon atau meminta tolong sesuatu pada Tuhan. Umumnya para ustadz menganjurkan umat Islam berdoa meminta kepada Tuhan. Tetapi bagi orang yang mafhum akan ibadatnya, ia menyembah dan memuji serta “bercengkerama” dengan Tuhan tanpa pamrih selain Ridho dan Cinta-Nya. Mungkin secara awam terkesan bahwa hamba mukhlisin itu sombong karena seakan tidak membutuhkan sesuatu dari Tuhan. Kebutuhan hamba mukhlisin akan Tuhannya tidak bisa dikaitkan dengan permintaan pada Tuhannya. Baginya, ia akan sangat malu meminta kepada Tuhan karena Tuhan lebih mengetahui kebutuhannya ketimbang dirinya sendiri. Baginya, Ridho-Nya sudah sangat cukup, sangat memuaskan, sangat membahagiakan. Ia sudah merasa nikmat melakukan ibadat secara murni dan benar, menjaga keimanan dan berharap selalu di dalam Kebenaran-Nya. Seperti pada Kajian 1: Samudera al-Fatihah, jika pun ia memohon, maka permohonannya adalah “tunjukilah kami jalan yang benar” atau “berikan kami yang terbaik”.

“…maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah)-Ku…”

Penggalan ayat ini identik dengan Surat al-Fatihah yaitu mendahulukan menyembah lalu memohon. Pada penggalan ayat ini, manusia hendaknya sadar terlebih dahulu untuk memenuhi segala perintah-Nya. Setelah itu, konsekuensi Tuhan akan mengabulkan doanya jika ia berdoa kepada-Nya, dengan doa yang benar.

Pada QS. 1. al-Fatihah 5: (1) Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan (2) Hanya pada-Mu kami memohon, sedangkan pada QS. 2. al-Baqarah 186: (1) hendaklah mereka penuhi (segala perintah)-Ku, dan (2) Aku kabulkan permohonannya jika berdoa pada-Ku

Terkadang Tuhan yang Maha Penyayang membalik memberikan dulu anugerah kepada manusia agar ia bisa tergugah, sadar dan mau memenuhi perintah-Nya. Tetapi dengan kesempatan dan anugerah seperti itu banyak yang ingkar, tidak memenuhi perintah-Nya bahkan melalaikan-Nya. Inilah perbedaan orang awam dengan orang alim. Orang yang tidak mengerti ilmu hakikat selalu mengedepankan hak dari pada kewajiban. Sedangkan orang yang telah dewasa, arif bijaksana, justru akan mengedepankan kewajiban, karena hak bersesuaian dengan kewajiban menurut Keadilan Tuhan.

Orang yang benar-benar menjaga sifat ‘aslama, ia senantiasa berusaha memenuhi perintah-Nya tanpa sempat meminta atau memohon sesuatu, apalagi menuntut haknya. Ia “tidak sempat” meminta sesuatu karena kuatir belum bisa memenuhi perintah-Nya. Ia sibuk “menghitung-hitung diri” (muhasabah) atas segala kelemahan dirinya, kekhilafannya yang sebenarnya masih manusiawi dan terus selalu berusaha dalam kebenaran. Doa baginya berisi segala tasbih, pujian atau tahmid, tahlil, takbir dan istighfar serta zikir
al-Asmaaul Husna. Baginya, hal itu upaya terus menerus seumur hidup. Mungkin ia tak sempat memikirkan dirinya, sehingga biarlah Tuhan yang memikirkan dirinya, karena sepanjang waktu ia pun ingin memikirkan dan berzikir mengingat Tuhan-nya. Biarlah Tuhan mengingatnya, karena setiap waktu bahkan setiap detak jantung ia berusaha terus mengingat Tuhannya.

“…dan hendaklah mereka iman kepada-Ku,…”

Ini adalah sapaan yang harus ditanggapi serius. Untuk menjadi iman sepenuhnya, ia harus mencari rumus iman yang benar. Ia akan sangat malu jika ternyata belum bisa memenuhi perintah Tuhan, belum iman secara benar kepada Tuhan, lantas ia meminta segala macam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia malu, ke mana muka harus dipertaruhkan?

Soal Kebenaran

“…agar mereka selalu berada dalam kebenaran. 186)

Definisi kebenaran pada QS. 2. al-Baqarah 186 itu disebutkan sebagai yarsyuduuna, yaitu sebagai suatu mekanisme aktif sebagai usaha hamba-Nya yang selalu bergerak di dalam kebenaran. Tetapi secara obyektif atau sebagai salah satu sifat Tuhan, makna kebenaran disebutkan al-Haqqu, Kebenaran Hakiki atau Yang Mahabenar. Dengan kata lain yarsyuduuna adalah proses menuju al-Haqqu. Meskipun belum mencapai al-Haqqu secara sempurna, tetapi selama niat dan usahanya telah pada jalur yarsyuduuna maka ia telah berada pada medan kebenaran.

Pengertian “selalu dalam kebenaran” mempunyai makna yang dinamis. Ketika al-Qur’an sering mengingatkan segala suatu berlapis dan bertingkat, maka demikian pula tingkatan kebenaran. Makna “selalu dalam kebenaran” mempunyai pengertian minimal ada keinginan mencapai kebenaran hakiki. Dengan demikian, usahanya untuk mencapai tingkatan tertinggi itu, ia masih berusaha mendaki kebenaran demi kebenaran hingga menemukan dan merasakan kebenaran hakiki dari Tuhannya.

Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang al-Haqqu sebagai salah satu sifat di dalam al-Asmaul Husna, dan tiada keraguan bagi mereka yang telah mampu merasakan al-Haqqu.

Firman Tuhan pada QS. 2. al-Baqarah (Sapi Betina) 147,

“Kebenaran itu dari Tuhan-mu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.147)

Ketika manusia hendak menuju Kebenaran Tuhan, maka Tuhan akan menyambutnya dan menjelaskan Kebenaran-Nya. Interaksi ini sedemikian lembut dan mempunyai beberapa tingkatan bersesuaian dengan kemauan dan kemampuan seseorang. Tingkatan kebenaran yang dimaksud itu adalah kebenaran:

(1) dogmatis,

(2) indrawi,

(3) ilmiah,

(4) filsafat, dan

(5) agamis.

Secara singkat penjelasannya sebagai berikut:

Kebenaran dogmatis diterima oleh orang yang tidak tahu inti masalah. Ibaratnya taqlid buta. Masalahnya adalah jika dogma itu merupakan doktrin yang menyesatkan, secara halus tapi berdampak besar, akan membahayakan yang bersangkutan dan orang lain. Kebenaran ini adalah kebenaran semu jika tidak boleh disebut sebagai “kesalahan” sehingga masih perlu upaya pembuktian nilai kebenarannya.

Kebenaran inderawi hanya ditangkap oleh panca indera. Nilainya juga terbatas pada keindahan dan kenikmatan indrawi. Contoh yang sederhana adalah jamu yang tidak enak di lidah, tetapi bisa menyembuhkan penyakit. Jadi, kebenaran inderawi ini juga perlu penelusuran nilai kebenarannya.

Kebenaran ilmiah telah meningkat dengan menyertakan bukti ilmiah yang bisa diterima logika. Misalnya jamu tadi yang setelah diteliti medis ternyata mengandung zat-zat penyembuh dari unsur herbal. Contoh lain misalnya pergerakan planit-planit tata surya yang semula berpusat pada bumi (geosentris) menurut inderawi, tetapi bukti ilmiah menyimpulkan gerakan itu berpusat pada matahari (heliosentris).

Kebenaran filsafat meningkat bukan lagi mengkaji soal kebendaan, tetapi lebih mendalami eksistensi dibalik materi; termasuk di balik badan berikut jiwa dan idenya. Kebenaran filsafat sifatnya berdasarkan kemampuan manusia dalam mencari kebenaran hakiki. Upaya untuk itu patut dihargai, walaupun sering terjebak pada rasionalitas.

Kebenaran agama
adalah puncak yaitu Kebenaran Tuhan yang sifatnya “memberi” kebenaran hakiki, bukan “mencari” lagi. Masalahnya adalah bagaimana kemampuan manusia untuk menerima kebenaran hakiki itu, karena kebenaran Tuhan tidak sedikit yang melampaui batas logika manusia sehingga memberi kesan tidak masuk akal, angan-angan dan tidak ilmiah.

Pembagian tingkat kebenaran itu fleksibel tergantung pemahaman ilmuwan yang terkait dengan masing-masing disiplin ilmunya. Sementara itu setiap tingkat kebenaran, ternyata masih mempunyai cabang dan tingkat lagi. Siklus ini seperti teori sumber suara atau bunyi, cahaya dan reaksi berantai yang tak terhingga hingga sekecil-kecilnya. Uraian ini tidak bisa dipahami oleh kebenaran dogmatis dan inderawi

Hakikat kebenaran demi kebenaran seperti perumpamaan klasik yang menyebutkan bahwa “di atas langit masih ada langit”. Hijab demi hijab telah menyelubungi pengetahuan manusia akan hakikat diri, lingkungan dan Tuhannya. Dengan memenuhi segala perintah-Nya dan beriman secara benar maka keberadaannya di dalam nilai “kebenaran”, minimal telah mempunyai visi kebenaran agamis.

Sedangkan kebenaran agamis sendiri jika diperinci lebih lanjut bisa dipilah menjadi empat tingkatan, yaitu:

(1)
syari’at,

(2)
tarekat,

(3)
hakikat, dan

(4)
ma’rifat.

Pembagian-pembagian hierarki kebenaran tersebut hanya untuk memudahkan kriterianya dan bersifat subyektif, tergantung dari para ulama yang mambaginya. Tetapi berapa pun jumlah kebenaran itu, hakikatnya hanya satu juga yaitu kebenaran Illahi yang meliputi berbagai kebenaran di bawahnya. Untuk penjelasan detail tentang kebenaran ada pada Kajian 32: Tentang Ilmu.

Kebenaran Illahi Rabbi, Allah Swt, Tuhan yang Mahaesa, adalah sebagai Kekuasaan Mutlak, senantiasa berada di dalam Genggaman-Nya yang Mahaagung. Kebenaran dan Kekuasan Mutlak adalah “Kursi Tuhan” sebagai perlambang Kebenaran dan Kekuasaan-Nya yang tidak terbatas meliputi seluruh kebenaran haq di langit dan di bumi. ***

 

Puisi 2.

“aku dan AKU”

Sedekat apa antara hamba dengan Allah;

Bisakah diibaratkan bunga dengan aromanya?

Sejauh apa antara hamba dengan Allah;

Bisakah diibaratkan timur dengan baratnya?

 

Kucari-cari di mana Allah-ku

Kucari-cari di dalam diriku

Siapa yang telah “temukan” dirinya;

Dia telah “temukan” Allah-nya.

 

Surabaya, 21.04.1995

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: