Bacalah 01. Samudra al-Fatihah

(Dari Draft Buku: “Bacalah… Dengan Nama Tuhanmu yang Menciptakan”)

Dengan menyebut Nama Allah

yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.1)

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,2)

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.3)

Yang menguasai hari pembalasan.4)

Hanya kepada Engkau kami menyembah

dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.5)

Tunjukilah kami jalan yang lurus,6)

(yaitu) jalan orang-orang

yang telah Kau anugerahi nikmat kepada mereka,

bukan (jalan) mereka yang dimurkai

dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.7)

 

QS. 1. al-Fatihah (Pembukaan) 1-7

 

al-Fatihah adalah surat pertama atau pembukaan dari sebuah kitab suci yang bernama al-Qur’an. Sebuah surat yang sifatnya sangat umum dan mudah dihafal oleh setiap umat Islam, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Ia pun sering dibaca secara bersama-sama sebagai pembuka sekaligus penutup untuk suatu acara tertentu seperti syukuran, pengajian, doa bersama (istighosah), pelantikan, pernikahan, kematian dan lain-lain.

Sementara itu, makna dari Surat al-Fatihah, selain sifatnya yang global karena menyangkut seluruh aspek kehidupan, oleh sebagian orang, ia pun dipercaya mempunyai sifat “sakral” secara klenik atau mistik. Tidak sedikit orang yang beranggapan Surat al-Fatihah mempunyai “khasiat” seperti surat atau ayat al-Qur’an lainnya. Misalnya Ayat Kursi (QS. 2:255), Misykatul Cahaya (QS. 24:35), juga Surat Yaa-Siin (QS. 36:1-83), Surat ar-Rahmaan (QS. 55:1-78), Surat al-Ikhlas (QS. 112:1-4), Surat al-Falaq (QS. 113:1-5), Surat an-Naas (QS. 114:1-6) dan lain-lain.

Surat al-Fatihah – begitu juga dengan surat atau ayat lain yang dinilai “berkhasiat” – banyak dimanfaatkan sebagai ritual praktek supranatural. Misalnya untuk pengobatan alternatif, dipakai oleh orang-orang ‘pintar’ untuk pasien yang menginginkan keberkahan, menambah rasa percaya diri, untuk ‘pagar badan’, penglaris usaha, mudah jodoh dan lain-lain. Biasanya untuk keperluan itu disertai berbagai syarat seperti puasa, menjalani suatu pantangan, dibaca sebanyak sekian kali atau direndam di dalam air lantas diminum dan seterusnya. Mulai dari sini kebanyakan sudah menyimpang dari esensi ajaran agama Islam itu sendiri yang berawal-akhir kepada tauhid atau meng-esa-kan Tuhan.

Surat al-Fatihah, bersama-sama Surat Yaa Siin misalnya, juga banyak dimanfaatkan untuk mengirim doa kepada mereka yang sudah meninggal atau masih hidup. Pembacaan dan penghayatan yang sempurna biasanya lebih ideal dilakukan pada malam hari, dibaca berulang-ulang setelah sholat hajat atau tahajud. Selama praying delivery, konsentrasi dipusatkan dan ditujukan antara Tuhan, nabi/rasul, para sahabat nabi dan auliya, serta yang terakhir ditujukan kepada orang yang bersangkutan.

Begitulah esensi dan eksistensi Surat al-Fatihah yang sangat umum, mudah dihafalkan, benar-benar bermanfaat dan “berkhasiat” bagi semua orang yang ingin mengamalkannya, apapun tujuan pengamalannya asalkan didasari niat baik. Tetapi kajian ini tidak akan menambah uraian “khasiat” Surat al-Fatihah untuk maksud yang ditujukan pada seseorang maupun keberkahan diri, walau upaya itu tidak dilarang selama membawa manfaat, tidak menimbulkan mudharat serta tidak bercampur syirik karena justru ini yang penting untuk menjaga kemurnian keimanan seseorang.

Kajian ini lebih mengarungi dan menyelami makna filosofis al-Fatihah yang ditamsilkan sebagai “samudera”. Simbol samudera mengungkapkan permukaan luas yang indah seakan tidak bertepi memisahkan dunia “atas”‘ dan dunia “bawah”, serta kaya akan mutiara hikmah di dalamnya. Dengan “perahu kecil” yang bernama tubuh biologis, yang fana dan sangat terbatas kemampuannya, manusia berusaha ingin mengarungi samudera luas. Dan dengan kemampuan “menahan nafas”, ia pun berhasrat ingin menyelami seberapa “dalam” yang bisa diselami dari Samudera al-Fatihah; seberapa banyak “keindahan” yang dapat dilihat dan dinikmatinya seperti jenis ikan, hewan dan tumbuhan laut, bunga karang dan lain-lain.

Makna Samudera al-Fatihah memang tidak terbatas di dalam “rekaan” dan jangkauan ilmu manusia. Secara konsisten pemahaman Surat al-Fatihah dibaca setiap sholat disertai pemahaman artinya. Tetapi secara khusus, penghayatan Surat al-Fatihah memerlukan persiapan dan “energi” khusus yang dimiliki manusia. Di balik ayatnya yang relatif sangat pendek ternyata terdapat hikmah yang sangat dalam. Inilah kekhususan itu.

Mengingat sedemikian tingginya “maqam” Surat al-Fatihah, maka ia dikenakan hukum wajib dibaca pada setiap sholat wajib maupun sunnah. Karena ia wajib dibaca pada setiap rekaat di dalam sholat, Surat al-Fatihah disebut sebagai tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.

Firman Tuhan pada QS. 15. al-Hijr 87,

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.87)

Dengan berupaya memahami dan menghayati makna atau hakikat dari setiap ayat di dalam Kitab Suci – di mana di dalamnya diawali dengan Surat al-Fatihah sebagai tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang – maka Tuhan akan senantiasa menunjukkan Sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang berupaya untuk itu.

Maha Pengasih dan Maha Penyayang

“Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Penyayang1)“,

Ada beberapa tafsir lain mengartikan: “Dengan menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

“Dengan menyebut Nama Allah….”

Makna kalimat ‘dengan menyebut‘ di atas, berusaha mengikut-sertakan, melekatkan, men-senyawa-kan, me-manunggal-kan Nama atau Sifat Tuhan ke dalam diri hamba-Nya yang hendak mengaji al-fatihah atau al-Qur’an. Dibaca berulang-ulang tujuannya untuk melekatkan Nama-Nya setiap saat, di dalam situasi dan kondisi apa pun dan di mana pun ia berada.

Nama-Nama Tuhan – atau Sifat-Sifat Tuhan yang mulia – telah tersurat dalam al-Asmaaul Husna yang berjumlah 99. Di dalam maknanya, terdapat definisi “Tuhan”. Meskipun jumlah angkanya 99, tetapi jika ia dijabarkan akan menjadi tidak terhingga. Menghayati satu-per-satu al-Asmaaul Husna pada setiap Nama-Nya, diruntun mulai dari sifat ar-Rahmaanu (ke-1) hingga ash-Shabuuru (ke-99), maka sifat-sifat tersebut akan sangat relevan dengan setiap aktifitas, siapa pun, di mana pun, kapan pun, bagaimana pun!.

Itulah sebabnya zikir
al-Asmaaul Husna sebagai salah satu zikir yang sangat disukai para ahli zikir. Kajian selengkapnya soal al-Asmaaul Husna terdapat pada Kajian 33: al-Asmaaul Husna.

“…yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”

Kalimat di atas mengandung dua pengertian mendasar:

Pertama, sifat Maha Pengasih (ar-Rahmaanu) adalah Hukum Umum dari Tuhan yang berlaku untuk semua mahluk dan seluruh alam. Padanannya adalah hukum alam (natural law) atau sebab akibat (causality). Misalnya, hukum gravitasi atau hukum kekekalan energi yaitu sifat energi tidak hilang tetapi berubah dari satu energi ke energi lain. Semuanya adalah hukum alam yang terus bergerak dan berubah (panta-rhei). Contoh lain makna faktual sifat ar-Rahmaanu misalnya seorang yang tekun berdagang biasanya sukses, siswa yang rajin belajar biasanya akan pandai. Masih banyak pemisalan lain. Inilah hukum alam yang berlaku untuk semua mahluk termasuk manusia, baik mereka yang beriman maupun yang ingkar (kufur). Jika ada keinginan dari seseorang, jika disertai usaha keras untuk mencapainya, hasilnya pasti akan ‘dikasihkan’ oleh Tuhan yang Maha Pengasih, sesuai usahanya.

Ada riwayat lain memaknai ar-Rahmaanu sebagai fungsi sosial Tuhan sebagai Rabbul ‘alamiin. Sehingga, semua mahluk tanpa kecuali berhak mendapatkan sifat ar-Rahmaanu secara proporsional. Adapun generalisasi sifat ar-Rahmaanu sebagai ayat pembuka yang mengawali Surat al-Fatihah mengindikasikan bahwa Tuhan mendahulukan fungsi sosial-Nya daripada fungsi pribadi-Nya. Hal ini diharapkan bisa diteladani oleh manusia ketika hendak bersikap terhadap fungsi sosialnya sebagai zoon politicon daripada mengedepankan sentimen pribadinya sebagai homo sapien di atas segalanya – seperti banyak terjadi pada praktek berpolitik yang homo homini lupus.

Kedua, sifat Maha Penyayang (ar-Rahiimu) adalah Hukum Khusus dari Tuhan yang hanya berlaku bagi hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa sungguh-sungguh kepada-Nya. Hukum ini bisa melampaui hukum umum, hukum alam atau hukum sebab akibat seperti pada pembahasan sebelumnya. Nilai lebihnya terletak pada hasil usaha yang berkah, memberi maslahat pada umat dan lingkungan serta diridhoi Tuhan. Dari sisi ilmiah, sifat khusus ar-Rahiimu ini juga melampaui hukum gravitasi dan teori ilmiah lainnya. Misalnya: perjalanan isra’ Nabi Muhammad dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina). Bahkan perjalanan malam itu dilanjutkan dengan mi’raj dari tanah di bumi menuju Sidratul Muntaha sebagai tempat yang paling ghoib bagi semua mahluk. Sifat ar-Rahiimu juga dialami oleh Nabi Musa ketika membelah lautan dengan tongkat untuk menyelamatkan kaumnya dari fir’aun dan tentaranya. Pada hukum sosial, sifat ar-Rahiimu melampaui kepuasan materialistis. Kekuasaan politik dan kekayaan harta benda dunia, ternyata belum menjamin kematangan mental, kebahagiaan hati, ketenangan jiwa dan kedamaian batin.

Ada riwayat lain memaknai ar-Rahiimu sebagai fungsi pribadi Tuhan. Misalnya shaum (puasa). Nabi Muhammad menyatakan: Tuhan berfirman; “Semua amal Bani Adam menyangkut dirinya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku, Aku yang langsung membalasnya. Puasa ibarat perisai. Pada hari melaksanakan puasa, janganlah yang berpuasa mengucapkan kata kotor, tidak sopan, tidak enak didengar dan jangan ribut. Jika di antara kalian memakinya atau mengajak berkelahi, hendaknya mengatakan: “Saya sedang berpuasa”. Selanjutnya Nabi Muhammad bersabda: “Demi Tuhan yang diri Muhammad di dalam kekuasaan-Nya, bau busuk mulut berpuasa lebih wangi di sisi Tuhan. Satu kebajikan (digandakan) sepuluh dan akan Kutambah; dan satu kejahatan Kuhapuskan. Puasa itu untuk-Ku dan punya-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya dan puasa itu penghalang dan perisai dari siksa, bagaikan tameng senjata dari serangan pedang (HQR Baghawi).

Riwayat demi riwayat perawi hadits atau tafsir al-Qur’an telah banyak berkembang dengan berbagai tinjauan dan versi masing-masing mazhab. Bagaimana pun isi tafsir dari berbagai mazhab, seorang yang arif dan bijak harus mengembalikan kebenaran hakiki itu milik Tuhan.

Sifat Tuhan, khususnya ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu adalah sebagian dari sifat-sifat Tuhan di dalam al-Asmaaul Husna. Mengapa yang harus didahulukan adalah ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu dan bukan sifat lainnya seperti Mahalembut (al-Lathiifu) atau Mahaadil (al-Adlu) atau lainnya? Salah satu alasannya adalah karena Tuhan akan menunjukkan ‘keadilan’ antara fungsi sosial-Nya dan individu-Nya, dan memberikan batasan tipis atau ‘lembut’ antara sifat ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu.

Dengan mengikut-sertakan, melekatkan, men-senyawa-kan dan bahkan me-manunggal-kan 99 Sifat Tuhan ke dalam diri manusia, maka diharapkan manusia mampu menggali dan “menemu-kenali sifat ketuhanannya”, agar ia bisa kembali kepada-Nya dalam keadaan suci seperti ketika ia lahir ke dunia. Kemuliaan al-Asmaaul Husna sangat ideal jika “dilantunkan” sebagai zikir – baik sebagai zikir lisan maupun “zikir gerakan”. Artinya, masing-masing Sifat Tuhan dalam al-Asmaaul Husna selain dizikirkan bibir setelah sholat – juga sangat ideal dizikirkan gerakan tubuh seperti “menyebut” Nama-Nya seiring gerakan kaki melangkah dan tangan mengayun, sejalan tarikan dan hembusan nafas atau seirama detak jantung. Jika saja mampu…

Setelah melekatkan dalam arti menempelkan, langkah kemudian harus diusahakan bisa bersenyawa dan bersatu di dalam diri hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa. Prosentase kesenyawaan dan kesatuan (manunggal) sifat-sifat ketuhanan di dalam diri manusia tergantung dari usaha optimal lahir-batin dari masing-masing hamba-Nya.

Setiap usaha manusia selalu diperhitungkan Tuhan dengan sangat teliti. Orang sekuler pun jika ia sangat rajin belajar, bekerja dan berusaha, maka ia akan sukses di bidangnya. Bahkan orang ingkar sekalipun, jika berusaha keras ia biasanya akan sukses dengan apa yang diusahakannya. Inilah hukum alam (natural law) yang berlaku pada setiap mahluk termasuk manusia.

Sedangkan fenomena sosial terutama di Indonesia, kebanyakan mereka memang agak malas, miskin materi dan juga belum tentu kaya akan ilmu. Pemahaman dan penghayatan terhadap agama kebanyakan masih ritualisme, ibadah sekedar rutinitas fisik belaka dan bukan menjadikannya sebagai ruh, the way of life, the way of mind yang mendasari aktifitasnya. Orang ingkar menilai umat Islam tidak bisa mengurus negara, karena ritualisme agamanya menghambat aktifitas pembangunan, menghalangi pertumbuhan ekonomi, industri dan akhirnya melemahkan peradaban secara keseluruhan. Analisa itu didasarkan misalnya waktu sholat yang mengurangi efisiensi waktu kerja, puasa menghambat efektifitas kerja karyawan, hukum halal-haram yang membatasi industri makanan, minuman, hiburan dan lain-lain.

Jika umat Islam ingin maju, hendaknya dioptimalkan semua potensi intelectual, emotional dan spiritual yang telah dianugerahkan Tuhan. Optimalisasi itu pernah berjaya pada zaman keemasan Islam di zaman Nabi dan penerusnya yang banyak melahirkan ilmuwan, seniman dan lain-lain misalnya Ibn Rusyd, Ibnu Sina dan lain-lain. Dari zaman keemasan Islam, dunia barat mengambil pelajaran darinya dan kemudian menyusul zaman kejayaan Eropah yaitu Rennaissance atau Enlightenment. Revolusi Ilmu Pengetahuan, Revolusi Industri dan seterusnya.

Jika keseimbangan tiga potensi intelectual, emotional, spiritual mampu dikembangkan umat Islam berdasarkan tuntunan Kitab Suci dan ajaran Nabi, maka ia akan memperoleh ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu. Bahkan beberapa dominasi al-Asmaaul Husna akan bercahaya di dalam dirinya. Kebahagiaan hakiki akan diperolehnya ketika Tuhan telah melimpahkan ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu di dalam dirinya.

Tuhan yang Berhak atas Segala Pujian

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam 2)

Turunan pertama al-Asmaaul Husna – di dalam al-Fatihah – dari sifat ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu menuju al-Hamiidu. Ayat ini mempunyai makna yang menyeluruh bahwa segala pujian hanya bagi Tuhan, bukan untuk selain-Nya. Tuhan yang menguasai semesta alam raya memang patut memonopoli segala pujian. Jika ini dikembalikan maksudnya pada manusia yaitu segala pujian hanya bagi Tuhan dan bukan untuk selain-Nya, termasuk bukan untuk manusia, adalah mengingatkan posisi manusia sebagai mahluk yang sangat lemah, tidak patut menerima pujian sedikit apapun dari manusia atau mahluk lainnya. Dengan demikian diharapkan manusia selalu bersikap rendah hati, lemah lembut, menghormati sesama dan mahluk lainnya, serta memelihara alam lingkungan dengan baik.

Sifat al-Hamiidu dari Ruh Tuhan yang ditiupkan ke dalam janin atau diri manusia diharapkan mahluk bernama manusia itu mengenali potensi ketuhanannya yang terbatas pada fisik dan dimensi kehidupan kefanaannya. Tetapi sifat al-Hamiidu yang sedikit sekali disandangkan pada diri manusia sering disalahgunakan dan tidak dikembalikan pada Dia yang Maha Terpuji.

Beberapa kondisi yang memicu munculnya pujian dari manusia atas manusia dan mengakibatkan munculnya sifat sombong, secara umum dibagi menjadi enam kondisi, yaitu: (1) kemuliaan keturunan, (2) kelebihan ilmu, (3) kecantikan wajah, (4) kekuatan fisik, (5) kekayaan yang berupa harta, dan (6) kekuasaan jabatan.

Manusia lebih memilih sifat iblis yang sombong dan ingin dipuji. Jika semua pujian dikembalikan kepada Tuhan, manusia akan semakin mengenal (ma’rifat) akan Hakikat-Nya. Tetapi ketika pujian mengakibatkan manusia menjadi sombong, bersikap berlebihan, serta menjadikannya maksiat, maka ia semakin terjerumus karena ketidak-tahuannya dan akan semakin tersesat. Sebenarnya ada cara untuk berintrospeksi-diri di dalam mengatasi rasa kesombongan dan keinginan dipuji dari berbagai karunia Tuhan yang telah diberikan kepadanya, yaitu:

Kemuliaan Keturunan: Semua manusia keturunan Nabi Adam, semua memiliki kelebihan-kekurangan. Tuhan-lah yang al-‘Aziizu (Mahamulia), al-Mu’izzu (Maha Pemberi Kemuliaan), dll. Kelebihan Ilmu: Manusia lahir ke dunia tidak tahu apa-apa, Tuhan-lah yang al-‘Aliimu (Mahatahu), dll. Kecantikan Wajah: Hakikatnya di balik kecantikan itu adalah tengkorak. Tuhan-lah yang al-Mushawwiru (Maha Pembentuk), dll. Kekuatan Fisik: Saat lahir, sakit dan mati pasti merasa lemah. Tuhan-lah yang al-Jabaaru (Mahaperkasa), al-Qawiyyu (Mahakuat), dll. Kekayaan Harta: Ketika lahir telanjang tanpa apa pun, juga ketika ia mati. Tuhan-lah yang al-Ghaniyyu (Mahakaya), al-Mughniy (Maha Pemberi Kekayaan). Kekuasaan Jabatan: Saat ia pensiun, tiada lagi yang melihat jabatannya. Tuhan-lah ar-Raafi’u (Maha Mengangkat), serta al-Haafidhu (Maha Menjatuhkan), dll

Dari gambaran sederhana di atas, dapat ditarik kesimpulan sementara dari cara mengatasi kesombongan dan keinginan dipuji, yaitu:

Pertama, manusia lahir ke dunia dan akan mati kembali menjadi tanah, tidak membawa materi selain badan telanjangnya. Tidak ada materi yang menempel di tubuhnya ketika ia lahir dan mati. Hanya ada tiga amalan yang bisa membantunya di alam kubur dan akhirat kelak yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat, (2) amal jariyah, dan (3) anak saleh yang mendoakannya. Jadi, semasa hidup manusia di dunia hendaknya dibatasi nafsu kepemilikan atas status kebendaan dan kefanaan secara berlebihan, hendaknya dimanfaatkan untuk menanam benih ketiga amalan itu, bukan untuk kecongkakan berjalan di bumi dengan sombong dan keinginan dipuji.

Kedua, mengembalikan sifat sombong dan pujian hanya pada Tuhan. Harus dipahami segala pujian dan kekuasaan tidak terbatas hanyalah milik Sang Mahahidup, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Penyandang Mutlak pemilik al-Asmaaul Husna, yaitu Allah Swt, Tuhan semesta alam. Manfaat pemahaman ini bukannya melemahkan Tuhan yang memiliki sifat sombong dengan Kebesaran-Nya, tetapi justru akan membentuk sikap mental manusia menjadi insan kamil yang wara’, qonaah, tawadhu’, zuhud, istiqomah dan sifat ‘aslama lainnya.

Hidup dan mati adalah hal biasa, dan semua akan mengalaminya karena sifatnya sementara (fana). Ruh dan tiga amalan di atas adalah abadi (baqa). Di antara momentum kelahiran dan kematian, atau semasa hidup di dunia, bukan untuk sekedar membanggakan keturunan, bukan sekedar koleksi titel sarjana di depan dan belakang namanya, mempercantik wajah dan tubuh secara berlebihan, mengandalkan kekuatan fisik, menumpuk harta serta mengagungkan kekuasaan yang disandangnya. Akan lebih bermakna abadi jika hidup di dunia fana ini berfungsi mengenal hakikat diri dan Tuhannya.

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang3)

Karena al-Fatihah disebut sebagai tujuh ayat dibaca berulang-ulang, maka kalimat bismillahi rahmaanirrahiim dihitung sebagai ayat pertama. Jika Tuhan telah menegaskan dengan mengulang-ulangi ayat-Nya, pasti ada hikmah yang tersirat di balik yang tersurat. Pengulangan itu bisa bermakna menegaskan adanya harapan dari janji-janji Tuhan, menggambarkan nikmat, menjelaskan ancaman dan lain-lain.

Selain pengulangan ar-rahmaanirrahiim di ayat ke-1 dan ke-3 di dalam Surat al-Fatihah, ternyata ada surat lain yang mengulang beberapa ayatnya rata-rata dua kali bahkan ada yang lebih dari sepuluh kali. Dalam satu surat yang terdapat ayat diulang-ulang, di antaranya:

Pertama, QS. 94. Alam Nasyrah (Melapangkan) ayat 5 dan 6,
yaitu “Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.”

Kedua, QS. 102. al-Takaatsur (Bermegahan) ayat 3 dan 4, yaitu “Jangan begitu, kelak kamu tahu (akibat perbuatanmu itu).”

Ketiga, QS. 109. al-Kaafiruun(Orang-Orang yang Ingkar) ayat 3 dan 5, yaitu “Kamu bukan penyembah Tuhan yang kusembah.”

Keempat, QS. 54. al-Qamar (Bulan) ayat 17, 22, 32, dan 40, yaitu “Sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”

Kelima, QS. 27 an-Naml (Semut) ayat 60, 61, 62, 63, dan 64, yaitu “Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain?”

Keenam, QS. 55. ar-Rahmaan (Maha Pemurah) mengulang 31 kali ayat yang berbunyi, “maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”

Beberapa contoh itu terdapat di al-Qur’an di dalam satu surat. Masih banyak pengulangan ayat antara satu surat dengan surat lain. Sedangkan Surat al-Fatihah disebut tujuh ayat berulang-ulang, tidak dalam al-Qur’an, tetapi dibacanya diulang-ulang ketika sholat maupun dzikir.

Firman Tuhan pada QS. 15. al-Hijr 87:

“Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan al-Qur’an yang agung.87)

Ketika Nabi Muhammad mi’raj ke Sidratul Muntaha dan menerima perintah sholat langsung dari Tuhan; maka dalam sholat dibacalah tujuh ayat berulang-ulang yaitu Surat al-Fatihah. Tuhan memerintahkan sholat sebagai ibadat yang sangat mendasar, karena sholat merupakan sarana komunikasi vertikal langsung antara manusia dengan Tuhan. Dapat dibayangkan pada era information technology, bagaimana jika manusia kehilangan komunikasi antar manusia, atau bagaimana jika sarana komunikasinya rusak? Maka, dapat dibayangkan bagaimana jika manusia kehilangan komunikasi dengan Tuhannya atau sarana komunikasinya (sholat) rusak?

Sholat menjadi tiang agama yang menghubungkan pondasi dengan atap, melekatkan dinding sehingga rumah menjadi kokoh. Seluruh umat manusia pasti mempunyai ajaran sholat atau ibadah vertikal kepada Tuhannya. Sebelum Muhammad, perintah sholat pun diterima para nabi sebelumnya. Lebih detailnya lihat Kajian 40: Khusyu’ dalam Sholat.

Seperti kepada Nabi Musa, “Kami mewahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk kaummu, dan jadikanlah rumah-rumahmu itu tempat sholat dan dirikan sholat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”. (QS. 10:87)

Seperti pada Nabi Isa, “Dan Dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana aku berada dan Dia memerintahkan padaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (QS. 19:31)

Sholat pada masa Nabi Musa dan Nabi Isa tidak dijelaskan secara spesifik soal tata cara, rukun, syarat serta bacaannya. Sedangkan sholat bagi umat Islam mengenai mekanisme rukun, syarat dan bacaannya dicontohkan oleh Nabi Muhammad yang diwariskan pada para sahabat dan ‘ulama salaf setelahnya. Dengan memahami serta menghayati hakikat sholat seperti dicontohkan nabi, ditambah dengan zikir selesai sholat, hal itu diharapkan bisa menyerap hikmah tidak terhingga yang dikandung dalam ar-Rahmaanu dan ar-Rahiimu pada pengulangan kedua dalam Surat al-Fatihah.

Segala Sesuatu ada Balasannya

“Yang menguasai hari pembalasan4)

Ayat ini memiliki dua makna hari pembalasan: Pertama, sebagai suatu keadaan yang lamanya tak berbatas, waktu tidak terhingga setelah kejadian kiamat besar (kubro); Kedua, sebagai suatu hari, suatu jam, suatu menit, suatu detik, saat tertentu seper-sekian detik di dunia fana, sudah berlaku hukum sebab-akibat (causality), pembalasan akibat karena suatu sebab.

Sebagian besar pemahaman awam menjelaskan bahwa adanya hari pembalasan akan terjadi setelah kiamat besar, atau waktu di akhirat kelak. Setelah bumi dan langit bergulung-gulung dan dilenyapkan seluruh isinya, maka terbitlah suatu ‘hari’ atau ‘masa’ menurut terminologi alam akhirat, bukan dunia lagi. Dinamakannya hari itu sebagai hari pengadilan yang paling adil seadil-adilnya, atau hari pembalasan terhadap seluruh perbuatan manusia selama mereka menjalani hidup di dunia.

Membayangkan hari pembalasan dan perhitungan di akhirat, tentu takkan bisa terbayangkan. Tetapi secara halus, makna hari pembalasan juga telah dan sedang berlangsung pada saat ini bahkan “di sini”. Pembalasan dan perhitungan model seperti ini bisa dirasakan hanya oleh orang-orang yang peka perasaan dan terlatih batinnya. Masalah perasaan memang tidak bisa dimanipulasi oleh kekayaan dan kesenangan semu yang diperoleh secara tidak jelas atau bukan haknya. Manipulasi ini menutupi kehalusan perasaan dan nilai-nilai illahiyah yang disemayamkan di dalam ruh manusia.

Tuhan yang menguasai keadaan (hari) pembalasan seperti itu. Sehingga bagi orang-orang mu’min akan berhati-hati di dalam setiap pikiran dan tindakannya. Hatinya tidak nyaman jika memperoleh harta bukan haknya, pedih jika khilaf menganiaya anak yatim, takut jika lupa menyantuni fakir miskin dan kaum dhuafa lainnya.

Banyak orang kaya yang memperoleh harta secara tidak wajar langsung dibalasi dengan hati tidak tenteram, pikiran tidak tenang. Lebih parah lagi jika kondisi hati nuraninya sudah terkunci mati. Tetapi pembalasan halus ini tidak disadarinya, karena kerak tebal kemunafikan dan manipulasi telah menutup rapat-rapat hati nuraninya.

Menyembah Dulu, Baru Mohon Pertolongan

“Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan5)

Ayat ini “bisa jadi” merupakan ruh al-Fatihah. Jika ayat sebelumnya telah diungkapkan pujian bagi Tuhan dengan segala sifat ke-Maha-an, maka ayat ini mulai menghubungkan antara Tuhan dengan hamba-Nya yang sedang melafalkan Surat al-Fatihah.

“Hanya kepada Engkau kami menyembah…” adalah kalimat tauhid vertikal menghubungkan manusia dengan Tuhan, langsung tanpa perantara. Pada ayat ini, ia harus mengesampingkan semua obyek dan subyek selain Dzat Tuhan itu sendiri.

“…dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.5)adalah kalimat tauhid vertikal-horisontal, tergantung pertolongan apa yang diminta dari Tuhan. Ini pun ternyata banyak dilalaikan oleh manusia dengan mohon pertolongan dari orang lain, atau minimal tergantung dengan orang yang status sosialnya lebih mapan darinya. Bahkan ada pula yang mengabdi pada ‘kekuasaan’ lain selain Tuhan seperti jin dan iblis/setan, melalui perantara seperti dukun, paranormal dan lain-lain.

Meniti di Jalan yang Benar

“Tunjukilah kami jalan yang lurus
6)

Arti lainnya “Tunjukilah kami jalan yang benar
6) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (jalan) mereka yang sesat 7)

Hidup di dunia ibarat meniti jalan yang mengarah pada satu tujuan. Untuk mengemban tugas itu secara benar, ia harus tahu jalan atau jalur yang benar serta bekal apa yang harus dibawa untuk mencapai tujuan itu.

Ada lima lima faktor penentu utama yang perlu diperhatikan dan sangat mempengaruhi proses perjalanan manusia meniti di atas jalan yang benar menuju Tuhan, yaitu: (1) Mengetahui subyek tujuannya yaitu Allah (Tuhan), (2) Mengetahui jalan untuk mencapai tujuan yaitu ‘aslama (berserah diri), (3) Mempunyai peta atau buku petunjuk, pembeda atau penerangan secara tersurat, yaitu Kitab Suci, (4) Membawa cahaya penerang secara metafisik jika hari gelap atau kabut mulai datang, yaitu “Nur Tuhan”, (5) Membawa bekal perjalanan yaitu ilmu bermanfaat, amal-amal jariyah dan anak saleh yang berbakti dan mendoakannya.

Jika
manusia tak tahu arah atau subyek tujuan perjalanannya, ia hanya berjalan dan berlari di tempat atau memutar bolak-balik tanpa kepastian. Jika manusia tidak mengetahui jalur perjalanannya, ia akan terjebak pada jalan sesat dan menjerumuskannya ke belantara atau jurang yang dalam. Jika manusia tidak mempunyai peta atau buku petunjuk perjalanannya, ia akan bingung bertanya-tanya pada orang lain, di mana orang yang ditanyai itu belum tentu tahu arah perjalanannya. Jika manusia tidak membawa cahaya penerang dalam perjalanannya, ia akan meraba-raba penuh ketidak-pastian arah jika gelap datang atau kabut menghalang. Jika manusia tanpa bekal dalam perjalanan, ia takkan sampai ke tujuan karena lemah akibat haus dan lapar yang melemahkan tubuhnya.

Pada ayat ke-5 disebutkan “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.5), tidak disebutkan pertolongan macam apa yang dimohonkan. Tetapi pada ayat ke-6, bentuk mohon pertolongan muncul berupa “tunjukilah kami jalan yang benar” bukan rejeki uang yang banyak, kepandaian sekuler dan bentuk kongkrit materi lainnya. Ini pertanda puncak bentuk pertolongan, “tunjukilah kami jalan yang benar” atau “beri kami yang terbaik” – terbaik menurut Tuhan.

Setelah mengawali setiap kegiatan dengan menyertakan Tuhan melalui ucapan bismillahirrahmaanirrahiim, lalu mengembalikan hak pujian mutlak kepada Tuhan; maka sampailah ia memohon kepada Tuhan. Dari penjelasan ayat ke-5 dan ke-6, disimpulkan bahwa Surat al-Fatihah berfungsi sebagai zat katalisator permohonan antara manusia dan Tuhannya yang menekankan tiga persoalan mendasar: (1) Hanya kepada Tuhanlah manusia menyembah, (2) Hanya kepada Tuhan manusia memohon pertolongan, dan yang terakhir (3) Permohonan utama agar manusia ditunjukkan jalan yang benar.

Catatan khusus pada point ke-3 adalah permohonan ditunjukkan jalan yang benar hakikatnya berakar meliputi segalanya. Ini sering dilupakan umat yang meminta status, jabatan, kekayaan dan lain-lain. Tetapi mereka yang mengkaji lebih dalam, permohonan itu menjadi general “tunjukilah kami jalan yang benar”. Apa pun status dan profesi yang disandangnya, yang terpenting adalah ia melangkah dan meniti di atas jalan yang benar.

Persoalan kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh manusia sebetulnya sederhana jika kembali pada Tuhan yang Mahahidup. Jika sudah berinteraksi dengan Tuhan, segala sesuatu menjadi sangat mudah. Hidup terasa nikmat dan pekerjaan lebih bermanfaat, dalam kondisi susah atau senang, sedih atau gembira, miskin atau kaya, sendiri atau bersama, dan seterusnya. Hidup hanya untuk menikmati ibadat tanpa banyak permintaan macam-macam. Ia hanya meminta yang terbaik menurut Tuhannya, bukan atas kehendaknya.

Lima Alam Kehidupan

Isyarat yang diberikan al-Fatihah di atas telah memungkinkan manusia bersikap qonaah (cukup dengan apa adanya), ikhtiar (berusaha) dan ibadat secara istiqomah (teguh di dalam pendirian). Dengan demikian, ia akan memahami hakikat kehidupan yang telah, sedang dan akan terjadi. Ia akan memahami seluruh kehidupan dari belum ada, sedang ada dan jadi tiada lagi. Ilmunya akan meliputi lima alam kehidupan: (1) alam ruh, (2) alam rahim, (3) alam dunia, (4) alam kubur, dan (5) alam akhirat.

dapat dilakukan oleh manusia pada alam rahim (2) dan alam dunia (3). Itu pun pembahasannya terbatas pada kajian medis, fisis, biologis, psikis dan ilmu sosial. Sedangkan selebihnya ternyata masih ghoib, tidak terbatas dan tidak terbahas yaitu alam ruh (1), alam kubur (4), alam akhirat (5), termasuk manusia tidak bisa menjawab pertanyaan, “mengapa Tuhan menciptakan manusia dan kehidupan di bumi?” Jawaban mutlak hanya pada Tuhan.

Mereka yang tidak percaya ketiga alam ghaib itu di zaman nabi adalah kaum ingkar dan fir’aun yang menuhankan dirinya. Sedangkan di zaman kini adalah kaum komunis dan atheis “moderat” di balik kapitalisme berwajah sekulersisme dan berparfum hedonisme. Mereka yang tergolong ingkar itu bisa dideteksi dengan pola hidupnya yang berlebihan, tidak zuhud.

Siklus lima alam kehidupan yang dilalui manusia adalah: Pertama, Alam Ruh: Proses penciptaan ruh manusia dari tiada menjadi ada. Kedua, Alam Rahim: Proses pembentukan janin hingga menjadi calon bayi, ada yang sempurna ada yang cacat; Proses peniupan ruh ke jasad janin dan persenyawaan manusia sebagai mahluk jasmani sekaligus ruhani. Ketiga, Alam Dunia: Proses kelahiran dari alam rahim ke alam dunia; Proses mengenal alam lingkungan sekitar; Proses intelektualisasi, emosionalisasi dan spiritualisasi. Insan kamil yaitu ke-3 proses dikembangkan seimbang; Proses penuaan dan kematian yaitu perpisahaan jasmani dan ruhani. Keempat, Alam Kubur: Proses penguburan jasmani kembali ke tanah dan panggilan ruhani ke Tuhan; Proses pengadilan dan azab sementara di alam kubur. Kelima, Alam Akhirat: Proses penghancuran segala dimensi ruang dan waktu; Proses pengadilan akhirat sesuai skenario Tuhan.

Seperti telah disebutkan di awal kajian ini, bahwa selain al-Fatihah yang kaya makna tak terbatas, ia juga dimanfaatkan sebagian orang sebagai ‘obat’ yang diramu para ahlinya, mulai paranormal, pengobatan alternatif, agar usaha lancar dan berhasil, sebagai pengusir mahluk halus dan lain-lain. Tetapi secara normatif, wahyu Tuhan ini bersifat obyektif tergantung orang yang membawa, memanfaatkan dan mengamalkannya. Surat al-Fatihah ini ruh-nya mampu menembus kelima alam kehidupan di atas.

Kelebihan seseorang dari penghayatannya akan al-Fatihah yang mampu melintas batas lima alam kehidupan, juga bervariasi tergantung ibadatnya. Akhirnya segala sesuatu menyangkut keberhasilan dan kegagalan manusia harus dikembalikan kepada Tuhan yang Maha Berkehendak, meskipun sulit dipahami karena Kehendak Tuhan sering memberi kesan eksternal yang tidak konsisten bagi manusia yang kurang bisa memahami-Nya.

Tiga Ilmu untuk Tiga Jiwa

Surat al-Fatihah juga nikmat dibuat zikir, baik dengan tujuan memohon pertolongan atau petunjuk Tuhan maupun ‘tanpa tujuan’ selain Cinta semata. Caranya dibaca berulang-ulang, diendapkan pikiran, diresapi ke dalam hati, dimantapkan, bahkan ditancapkan juga hingga merasuk ke tulang sum-sum dan/atau ‘pusat sukma’.

Dari berbagai amalan dan usaha konkrit manusia, selayaknya semua itu membuahkan hasil berupa ilmu. Secara khusus kajian ilmu dibahas pada Kajian 32: Tentang Ilmu. Tetapi secara umum, ada tiga macam ilmu yang mencerminkan jiwa manusia. Skema pengamalan dan pengalaman ilmu adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Skema Identifikasi Nafsu dan Ilmu

Penjelasan pembuka mengenai Surat al-Fatihah secara umum dibatasi pada semua uraian di atas. Jika lebih diperinci, tidak cukup ruang dan waktu untuk membahas hingga tuntas. Tangan lelah menggores pena, pena habis dari ribuan pohon, tinta habis dari tujuh lautan, pikiran terbentur pada sisi batas logika, kertas dan disket tidak muat memorinya, komputer pentium versi terbaru tidak mampu mengurai hikmah Samudera al-Fatihah. Tetapi diharapkan ia mampu mewakili segala keadaan, setiap situasi dan kondisi; berlaku untuk semua orang, setiap kelompok dan semua umat. ***

 

Puisi 1.

Samudera al-Fatihah

 

Ketika tenang, ia terhampar tak berujung

Ketika bergelora, ia pun bergelegak setinggi gunung

Ketika tenang, mata nikmat memandang

Ketika bergelora, mata pun ikut terguncang

 

Samudera al-Fatihah…

Dalammu terkandung makna tak terhingga, tak berkata

Hewan dan tumbuhan laut bersyukur atas rejeki darimu

Semua pantai menerima hempasanmu, tak berdaya

Batu koral dan karang terjal melengkapi keindahanmu

 

Samudera al-Fatihah…

Pujian dan cacian tak membuatmu surut

Tetapi amarahmu membuat semua pada takut

 

Samudera al-Fatihah…

Dengan perahu kecil tubuhku…

Antarkan aku kepada-Nya…

 

Jakarta, 10.07.2001

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: