Artikel 2007.04 Sinkronisasi Tata Ruang…

(Artikel ini dimuat di Harian Kompas Jatim 16.03.2007)

 

FORUM

 

Sinkronisasi Tata Ruang

dengan Jaringan Jalan

 


embahas soal tata ruang tidak hanya menyangkut masalah reklame, jalur hijau, taman kota dan/atau pedestrian. Tetapi masih ada satu hal yang paling utama yaitu masalah jaringan jalan sebagai urat nadi aktifitas warga kotanya.

 

    Melengkapi tulisan Sdr. Anas Hidayat berjudul Perkembangan Surabaya antara Uang dan Ruang Kota (Forum Kompas Jatim, 08/03/07), maka tulisan ini akan lebih menekankan sinkronisasi Tata Ruang dengan Jaringan Jalan yang masih amburadul. Tidak kosistennya Tata Ruang, Jaringan Jalan dan hubungan keduanya tidak hanya dialami oleh Kota Surabaya, tetapi juga oleh hampir seluruh kota besar di Indonesia.

    Konsep permukiman yang tidak boleh dijadikan kawasan bisnis, misalnya, tidak hanya terjadi di Pondok Indah Jakarta. Di Manyar Kertoarjo Surabaya juga banyak muncul resto-resto yang didukung dengan semakin ramai oleh para pengunjung.

    Demikian pula dengan konsep jaringan jalan yang didasarkan pada UU no. 38 tahun 2004 tentang Jalan, banyak yang tidak konsisten antara syarat teknis yang dicantumkan dalam UU itu dengan kenyataan di lapangan. Ketika saya menyortir leger jalan di Surabaya, banyak dijumpai lebar jalan lokal lebih besar dari jalan kolektor. Jalan lokal yang demikian seharusnya ditingkatkan statusnya menjadi jalan kolektor.

    Beberapa kasus di atas adalah contoh sedikit permasalahan yang semakin terakumulasi dan akan menumpuk menjadi gunung es. Jika dibiarkan, maka akan banyak “musibah” terjadi di masa depan. Penafsiran “musibah” tersebut adalah semakin amburadul fungsi lahan dan status jalan. Jika tidak serius membangun sinkronisasi Tata Ruang dan Jaringan Jalan, lalu mengapa susah-susah dibikin UU Tata Ruang dan UU Jalan. Apa hanya semata karena uang?

    Kota Surabaya – dan Wilayah Gerbang Kertosusilo – sebetulnya masih ada kesempatan untuk membangun sesuai konsep yang telah diatur di dalam UU hingga Perda setempat. Untuk itu perlu dukungan serius dari Walikota, Bupati, DPRD dan seluruh warga.

    Kota Jakarta yang “memuai” hingga Jabodetabek adalah contoh pembangunan perkotaan yang bisa dinilai terlambat menangani soal tata ruang, kemacetan dan urbanisasi yang tidak terkendali. Terjadilah banjir, kriminalitas, polusi udara, penyakit dan konflik sosial, individualism, hedonism, tata-ruang tidak seimbang, pola hidup menyimpang, hilangnya ciri warga Betawi dan lain-lain.

    Akankah Kota Surabaya – dan Gerbang Kertasusilo – akan ikut latah membangun kota modern yang sekuler, disharmonis dengan alam serta kehilangan ciri khas warga Kota Surabaya seperti konsep kampung, pasar rakyat, kesenian dan makanan tradisional hingga kawasan bangunan kuno bersejarah yang harus dilindungi?

    Tata Ruang dan Jaringan Jalan yang berbasis kawasan / wilayah, mutlak baginya memiliki software yang membantu menyelesaikan berbagai permasalahan; termasuk sebagai sarana informasi terpadu.

 

Peta Digital Terprogram

 

Terkait sinkronisasi tata ruang dengan jaringan jalan, maka Dinas Bina Marga dan Pematusan telah membangun software Peta Digital Terprogram sejak tahun 2005.

Seiring inventarisasi masalah yang sedang dan akan dihadapi, software ini dilengkapi dengan bahasa program dan menu-menu sedemikian rupa sehingga sangat fleksibel membantu tugas Dinas Bina Marga dan Pematusan, serta Pemerintah Kota pada umumnya (termasuk tata ruang).

Program ini dibuat berbasis mapping
software Mapinfo dan bahasa program Mapbasic. Untuk menangani kondisi jaringan jalan, rumusan formula teknik telah diprogram oleh Mapbasic. Survey kerusakan jalan dilakukan rutin tahunan per 250 m, per lajur jalan. Setiap nilai kerusakan jalan akan dimasukkan ke inputting data. Ketika di-running, program ini akan menyajikan segmen-segmen jaringan jalan berwarna merah, kuning dan hijau yang mewakili kondisi penanganan peningkatan atau rekonstruksi, berkala dan penanganan rutin.

Peta Digital Terprogram ini juga dilengkapi dengan menu info foto, film, leger jalan, kontraktor, konsultan, citra foto satelit dan lain-lain yang hyperlink dengan peta kondisi jaringan jalan. Software ini ideal dikembangkan, bahkan bisa menjadi pilot project untuk daerah-daerah se-Indonesia.

Tahun 2007, Peta Digital ini disempurnakan dengan pembuatan peta jaringan jalan berbasis GPS (Global Positioning System) yang sudah familiar di negara maju. Jika jaringan jalan Kota Surabaya sudah dibuat berbasis GPS, maka peta ini akan sangat menunjang dinas-dinas lain terkait wilayah seperti tata-ruang, pertanahan, kependudukan, pariwisata dll sehingga akan terbangun sistem terpadu yang cepat-tepat-akurat…

Peta Digital Terprogram juga bisa dimanfaatkan instansi utilitas PLN, PDAM, Gas, Kereta Api dan lain-lain. Jika semua dinas dan instansi utilitas kewilayahan / jaringan memakai peta GPS yang terprogram ini, maka pekerjaan Pemkot akan lebih efektif-efisien, termasuk presentasi ke investor.

Semoga tulisan ini sampai ke Walikota dan anggota DPRD Kota Surabaya, sehingga konsep Peta Digital Terprogram bisa segera membantu mewujudkan Surabaya yang sinkron antara tata ruang dan jaringan jalan, serta pembangunan bidang lainnya secara harmonis dan berkesinambungan.

 

DIDIK HARDIONO, ST. MT.

Ditjen Bina Marga, Dep. PU.

Alumnus FTSP-ITS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: