Artikel 2003-07 Terima Kasih Tuhan

P e n g a n t a r

Melalui lomba penulisan Naskah Sketsa Keagamaan yang diselenggarakan oleh institusi Departemen Agama RI – berdasarkan ketentuan khusus – merupakan upaya menggali pengalaman religi seseorang sebagai hamba Tuhan yang benar-benar terjadi secara realistis. Hal ini ditujukan agar bisa menjadi pelajaran bagi anak usia sekolah TK/RA, SD/MI. SLTP/MTs dan SMU/MA bahwa peran agama sangat penting dan eksistensi Tuhan sangat mutlak Ada-Nya.

Keberadaan Tuhan bukanlah sekedar apa yang dijelaskan di sekolah. Tetapi melalui segala ciptaan-Nya yang real (nyata) ternyata di dalam hati seseorang akan mengakui dan merasakan keberadaan yang unreal (tidak nyata), termasuk yang Maha Unreal, Maha Ghoib, Allah Swt. Bahkan jika telah mampu merasakan Kasih Allah, maka kebahagiaan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Betapa Allah mencintai hamba-hamba-Nya, tetapi sedikit hamba-hamba-Nya yang mampu merasakan dan membalas barang secuil dari Kasih-Nya yang unlimited itu.

Materi tulisan ini hanya mengungkapkan pengalaman penulis di dalam rentang waktu usianya yang 35 tahun. Tidak ada maksud ingin dipuji dan diteladani – karena pujian hanya untuk Allah Swt dan teladan hanya pada diri Rasulullah Saw. Penulis hanya ingin berbagi rasa bahwa “Nur” Rasulullah Saw masih ‘hidup’ membimbing umatnya untuk merasakan Kasih Allah, dan Allah memang sangat dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih tahu dari manusia itu sendiri.

Bagi adik-adik usia sekolah TK/RA, SD/MI. SLTP/MTs dan SMU/MA, dengan usia yang muda dan kesempatan masih banyak ke depan, hendaknya kesempatan itu tidak disia-siakan untuk melakukan kebaikan dan kebenaran. Karena jika kesempatan itu disia-siakan bahkan digunakan untuk kenakalan dan kemaksiatan, maka hanya penyesalan tiada akhir yang akan dirasakannya. Kesempatan hanya datang sekali, sehingga pemanfaatannya hanya untuk mencari dan menemukan jati diri insani. Kebahagiaan hakiki sangat terasa jika manusia telah menemukan ‘siapa’ dirinya. Sabda Rasulullah Saw, “Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu – Barangsipa kenal dirinya, maka kenallah ia akan Tuhannya”.

Semoga adik-adik yang di TK/RA, SD/MI. SLTP/MTs dan SMU/MA memanfaatkan dari sisa umurnya dengan kegiatan yang positif, mengoptimalkan potensi dirinya secara konstruktif, serta menjadi calon pemimpin bangsa dan umat yang benar-benar meneladani kepemimpinan Rasululah Muhammad Saw.

 

Jakarta, Agustus 2003

Penulis

 

– I –

Aku seorang anak laki-laki dari tiga bersaudara, kedua kakakku perempuan semua. Lahir dari keluarga biasa dan sederhana di Kampung Kedondong, Surabaya, tahun 1968. Masa kecilku cukup bahagia bersama teman-teman seusiaku, bermain di gang sempit di kampung. Waktu itu kedua orang tuaku masih numpang di rumah kakek-nenek, orang tua dari ibuku.

Pada tahun 1972, kami pindah ke Kampung Srikana, bagian timur Surabaya. Aku ingat rumahku masih terbuat dari anyaman bambu dilengkapi dengan papan. Di depan rumah ada pohon kelapa di mana aku sering memanjat dan memetik buahnya. Pada tahun 70-an, suasana Kota Surabaya masih sepi, tidak seperti sekarang. Ada pun jalan yang ada di depan rumah kami masih tanah, tetapi cukup lebar untuk dibanding di Kampung Kedondong yang harus melewati gang-gang sempit dan tidak bisa dimasuki kendaraan umum.

Bapakku seorang pegawai negeri di Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, lulusan D3 Biologi IKIP Malang. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga. Keduanya merupakan orang tua yang bertanggung jawab pada anaknya. Kalau ke kantor, bapak naik sepeda ‘kebo’, yaitu sepeda tahun 1960-an. Dengan ulet dan hemat, bapak menabung memperbaki rumah sedikit demi sedikit. Rumah itu akhirnya berkembang menjadi tembok, tetapi masih terbilang sederhana.

Beberapa tahun kemudian bapak dapat motor dari kantor. Ketika itu anak-anaknya masih duduk di sekolah dasar. Telinga kami masih ingat benar suara motornya ketika pulang dari kantor di siang hari dan kami berlarian berebut membukakan pintu.

Sekolah kami tidak jauh dari rumah, jalan kaki sekitar 15 menit. Sebelum kami sekolah dan bapak ke kantor, ibu menyiapkan sarapan. Sepulang dari sekolah kami pun mendapati ibu selesai masak siang. Setelah makan siang, kami dan ibu rebahan di tempat tidur menunggu bapak pulang dari kantor. Begitu terdengar suara motornya, kami berteriak, “Itu bapak pulang…,” dan kami berebut membukakan pintu.

Selama di sekolah dasar, pelajaranku tidak menonjol selain menggambar. Mungkin di situ bakat seni menggambarku mulai muncul…

– II –

Lulus SD tahun 1984, aku masuk SMPN I Surabaya, sebuah sekolah favorit yang terkenal dengan siswanya yang pintar dan anaknya orang kaya. Tetapi aku sendiri biasa-biasa saja, hanya bakat menggambarku yang berkembang. Pada pelajaran ekstra kurikuler, aku ikut seni rupa dan menjadi perhatian guruku. Karyaku sering ditempel di majalah dinding. Salah satu hasil karyaku yang masih terkesan hingga kini adalah ‘menggambar’ harimau dengan media benang berwarna yang dilem di atas tripleks, helai demi helai. Aku masih merasakan keasyikannya hingga kini. Sejak itu aku mulai bisa menikmati ekspresi seni menggambar.

Ketika di SMP aku senang membaca, terutama karya Enid Blyton yaitu Lima Sekawan, Sapta Siaga dan lain-lain. Ada kenangan buruk dalam mengoleksi buku-buku novel Enid Blyton, yaitu mencuri uang bapak karena uang jajanku sedikit dan kalau minta untuk bacaan itu pasti tidak dikabulkan. Bapakku sangat disiplin dan hemat, sehingga sangat ketat dalam pengeluaran.

Ketika di SMA ada pelajaran seni rupa dan aku masih menonjol. Setiap pelajaran itu, guruku menunjukkan gambarku sebagai contoh bagi teman-teman. Ada rasa bangga pada diri ini. Beberapa sketsa karyaku yang sempat terdokumentasi periode 1986-1988 seperti di bawah ini:

Sebagaimana anak remaja, aku juga mengalami romantika remaja. Cinta monyet pernah kualami walaupun bertepuk sebelah tangan. Begitu pun dengan nakalnya anak muda. Aku pernah membolos dan nongkrong di kantin bioskop bahkan minum bir, tetapi aku tidak bisa merasakan enaknya bir. Aku juga mencoba merokok, tetapi tidak bisa merasakan nikmatnya rokok.

Hingga SMA belum ada pengalaman religi yang kualami. Aku hanya sering melihat ibu melakukan sholat dhuha di pagi hari dan puasa sunnah senin-kamis. Tetapi secara tersirat ada satu pengalamanku ketika melewati kampus ITS dan aku berkata, “Itulah kampusku nanti”. Maka, seperti firman Tuhan ‘kun fayakun’, maka terjadilah ITS menjadi kampusku pada tahun 1987.

– III –

Mengikuti ujian Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru 1987, aku merasa tegang. Begitu aku pulang dari ujian, ibu bercerita bahwa selama aku ujian ternyata selama itu ibuku masuk kamar, sholat dhuha dan zikir. Ketika lulus masuk ITS, aku tidak tahu apakah itu karena keberhasilanku atau karena doa ibuku. Pada hari pengumuman, ibu pulang dari pasar, memeluk dan menciumku, seraya berkata, “Kau diterima, Anakku”. Ibu menangis bahagia dan akupun merasakannya.

Masa mahasiswa merupakan proses pencarian jati diri. Sekedar mengikuti kuliah ternyata tidak memuaskan intelektualku, karena proses pendidikan tidak sesuai dengan idealisme yang sedang bergejolak dalam diriku. Aku lalu mengikuti organisasi politik ektra kampus hingga ikut kelompok pengajian anak muda yang cenderung ke arah tasawuf yang lagi trend pada waktu itu.

Dari ibuku, aku mulai belajar puasa senin-kamis. Bahkan dari satu buku aku menemukan ada puasa sunnah di bulan Rajab dan Sya’ban. Di sana dijelaskan bahwa Rajab bulannya Allah dan Sya’ban bulannya Nabi, serta disunnahkan puasa sekurangnya sehari di dalamnya. Tetapi apa yang kulakukan? Aku tidak puasa sehari atau seminggu, tetapi sebulan penuh di bulan Rajab dan Sya’ban hingga Ramadhan. Aku puasa tiga bulan penuh Rajab-Sya’ban-Ramadhan!? Begitu pula puasa sunnah Muharram. Aku tidak puasa sehari-seminggu, tetapi sebulan dan kusempurnakan menjadi 40 hari!? Apakah menyalahi syari’at? Aku tidak tahu. Tetapi yang jelas aku merasakan bahagia lahir-batin tiada terkira. Aku tidak berharap apa-apa selain menikmati puasa itu sendiri. Itulah beberapa pengalaman religi yang sangat dominan dalam masa mahasiswa…

Pengalaman religi yang lain ketika ada seorang teman mahasiswa menulis artikel di koran, dimuat dan mendapat honor; aku pun ingin bisa. Dan dengan niat yang sungguh-sungguh, ternyata aku juga bisa. Tulisanku mulai banyak dimuat bahkan mengalahkan temanku tadi. Aku bersyukur pada Tuhan atas anugerah bakat baru yaitu menulis. Yang mengherankan ada tulisanku bernuansa religi dan dimuat, walaupun statusku pada waktu itu sebagai (alumni) mahasiswa teknik.

Salah satu contoh di antara sekian puluh karya tulisku

Dengan banyaknya kegiatan, kuliah menjadi molor dan aku lulus setelah 7 tahun kuliah! Kuliah selama itu, tetapi aku lebih bahagia menemukan sebagian jati diri yang ditunjukkan Allah. Karena selain menggambar dan menulis di media, aku pun memberi les matematika untuk SMA. Selama mahasiswa, aku menghasilkan draft buku yang berjudul “Mahasiswa, Ilmu, Organisasi”.

Sebelum lulus, dengan modal menggambar aku sempat bekerja sebagai designer furniture. Ketika lulus dan harus bekerja, Tuhan memberikan pilihan pekerjaan yang saling ‘bertentangan’. Dengan banyak anugerah dan kemudahan yang diberikan Tuhan, justru aku bingung memilihnya. Pertama, dengan modal menulis aku bisa diterima sebagai wartawan di Harian Jawa Pos dan ada kesempatan mengemban idealisme jurnalistik. Kedua, pada saat yang sama, aku diterima sebagai pegawai harian di Departemen Pekerjaan Umum (Dept PU) atas rekomendasi dari famili yang bekerja di sana, dengan kata lain masuk melalui kolusi. Untuk memilih menjadi wartawan, aku merasa orang tuaku sangat keberatan karena insinyur kok jadi wartawan? Akhirnya aku ‘terpaksa’ memilih menjadi PNS di Dept PU. Kata ‘terpaksa’ itu karena tidak sesuai dengan idealismeku dan sebagaimana diketahui oleh masyarakat umum bahwa PNS… begitulah ‘adanya’.

Ternyata skenario Tuhan sangat lain di antara rasa apatisku. Di instansi Dept PU yang konon banyak duit sekaligus banyak koruptornya itu, Allah mempertemukan aku dengan seorang pemimpin proyek yang ‘lurus’, ‘bersih’ dan ‘idealis’ bahkan beliau dari keluarga Pondok Gontor yang terkenal itu. Bahkan dari beliau pula aku ditarik ke Jakarta, membantu menulis tugas dari seorang Direktur yang sedang Lemhannas pada tahun 1999, hingga mendapat beasiswa atau tugas belajar S2 Pasca Sarjana di ITB pada tahun 2002. Jadi, PNS tidak kutinggalkan, tetapi justru PNS membutuhkan SDM yang benar-benar berdedikasi pada profesi, memiliki rasa nasionalisme dan sekaligus nurani yang religius agar bangsa ini bisa lebih mandiri, bermartabat dan beradab.

Keberhasilan demi keberhasilan, atau kemudahan demi kemudahan itu, baru aku pahami karena ada sinergi antara kerja keras dan ikhtiar dari yang bersangkutan, doa tulus dari orang tua dan ijin dari Allah. Ketiganya tri-tunggal yang masif, integratif, solid, tidak dapat dipisahkan.

– IV –

Pengalaman nyata keagamaan yang aku alami tidak hanya pada masalah-masalah besar dari rentang usiaku yang sudah menginjak angka 35 tahun. Hal-hal kecil pun ternyata Tuhan ikut hadir menemani kita. Dan jika kita bisa merasakan kehadiran Tuhan apalagi bisa ‘bercengkerama’ dengan-Nya, maka tiada lain puncak kebahagiaan selain itu…

Beberapa pengalaman religi keagamaan yang kualami di antaranya:

Kesatu, tahun 2001 adalah setahun penuh kegiatan kantor vakum. Dengan hobi menulis dan mencari hikmah dari agama, kumanfaatkan fasilitas kantor terutama internet dan komputer. Dengan download al-Qur’an dari internet, aku mencoba memilah ayat-ayat tertentu lalu aku ‘menafsirkan’ maknanya seperti yang kurasakan selama ini. Kegiatan religi setahun penuh itu menghasilkan draft buku “Bacalah dengan Nama Tuhanmu yang Menjadikan”.

Kedua, antara tahun 2001-2002 aku sempat mengikuti lomba karya tulis memperingati hari Bakti PU tahun 2001 dan HUT RI tahun 2002, dan keduanya menghasilkan juara pertama untuk tingkat departemen. Selanjutnya, aku insinyur tetapi lebih dikenal sebagai penulis.

Ketiga, selama setahun hanya menerima gaji PNS dan tentu tidak cukup untuk keluarga. Tetapi selesai menyusun draft buku tadi, sekitar April 2002 aku diminta bantuan untuk membantu di Pusat Pengkajian Sosial, Budaya dan Ekonomi Wilayah Balitbang Dept PU. Di saat yang sama aku diterima di tabloid baru sebagai redaktur. Tidak lama kemudian di departemen aku di mutasi ke Direktorat Prasarana Wilayah Tengah. Lalu ada pimpinan meminta bantuan menyusun kajian mengenai Balai Peralatan. Banyak merangkap pekerjaan di pertengahan tahun 2002 membawa konsekuensi finansial berlebih. Aku lalu paham skenario Tuhan, mengapa selama tahun 2001 aku mengalami kekosongan finansial? Karena harus memahami, menulis, menafsirkan isi Kitab-Nya. Baru tahun 2002, Tuhan memberi rejeki finansial 2-3 kali lipat! Terima kasih, Tuhan…

Keempat, dengan banyak merangkap pekerjaan, aku mulai merasa di luar kemampuanku. Tetapi untuk mengundurkan diri, jelas sangat memalukan. Akhirnya Tuhan kembali ‘bermain’ dengan adanya tawaran tugas belajar pasca sarjana. Itupun aku didaftarkan temanku, persyaratan belum lengkap. Pada Oktober 2002 aku lulus, dan diharuskan mulai kuliah tanggal 11 Nopember. Dengan keadaan seperti itu, semua pekerjaan bisa lepas dengan terhormat dan saling pengertian.

Kelima, pada saat masih di Surabaya tahun 1998 ada pergantian pemimpin proyek di mana aku bekerja mulai tahun 1995. Suasana kerja menjadi tidak kondusif. Aku ke Jakarta dengan alasan ingin sekolah pasca sarjana secara mandiri. Tetapi oleh pimpinan tidak boleh, aku ditarik ke Jakarta untuk membantu Direktur yang Lemhannas. Di Jakarta, kantor menyediakan rumah dan mobil dinas – di mana di Surabaya hal itu sangat tidak mungkin. Setelah ‘diperkenalkan’ dengan situasi di Pusat, baru tahun 2002 aku bisa sekolah dengan gratis. Terima kasih, Tuhan…

Keenam, banyak pengalaman religius lainnya melalui hal-hal kecil. Misalnya ketika ada keinginan sholat tahajjud sekitar jam 02.00. Ketika aku terbangun dan melihat jam dinding, anehnya jarum jam tepat menunjukkan jam 02.00 termasuk jarum detiknya!

Ketujuh, pulang kantor jam 14.00 ada keinginan sholat ashar di masjid jalan Terogong, yaitu di jalur rumah-kantor yang biasa kulewati dari Lebak Bulus ke Pattimura. Aku tidak tahu, cepat atau lambat perjalanannya karena kebiasaan macet di Jakarta. Tetapi anehnya, sesampainya di depan gerbang masjid dan pintu mobil kubuka, tepat saat itu adzan ashar dikumandangkan. Allahu Akbar…bulu kudukku merinding merasakan Ijin-Nya. Terima kasih, Tuhan…

Sebetulnya, banyak hal kecil mengantarkan ke yang besar. Banyak hal real mengantarkan ke yang unreal. Terima kasih, Tuhan… Engkau telah memberi kesempatan padaku merasakan Sentuhan-Mu…merasakan Kasih-Mu… *)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: