2003-07 ITB 02 Institusi Pendidikan & Agent of Change

Karya Tulis ini untuk Lomba Karangan Ilmiah Tingkat Nasional “ITB 2020”

 

Institut Teknologi Bandung:

Perkembangan Sains dan Teknologi,

dan Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia

( Prediksi dan Visi 2020 )

 

Oleh:

 

Didik Hardiono

Mahasiswa Program Magister STJR-ITB

NIM: 26902019

 

Tahun 2003

 

 

 

 

 

Bagian 2. ITB: Institusi Pendidikan dan Agent of Change

KEKUATAN dan upaya penampilan ITB diletakkan di atas struktur akademik yang telah hidup dan tumbuh sejak awal abad XX hingga membentuk perwujudan ilmu pengetahuan di dalam matra dan fakultas, meliputi:

  1. Matra ilmu kebumian dan sumber daya mineral oleh Fakultas llmu Kebumian dan Teknologi Mineral,
  2. Matra sarana dan prasarana oleh Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
  3. Matra industri oleh Fakultas Teknologi Industri dan Jurusan Farmasi,
  4. Matra manusia, sosial dan budaya oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain,
  5. Matra bisnis dan manajemen oleh Program Magister Bisnis dan Manajemen Teknologi,
  6. Matra matematika dan ilmu-ilmu dasar yang akan terus melandasi penemuan dan pengembangan ilmu-ilmu terapan oleh Fakultas MIPA.

Kekuatan dan penampilan ITB mencakup hampir semua cabang ilmu pengetahuan, sehingga perlu menguraikan filosofi ilmu pengetahuan secara holistik. Kontrol filosofis ilmu pengetahuan ini akan mengintegrasikan semua potensi kecerdasan yang dimiliki oleh manusia menyangkut ilmu dan alam semesta, baik secara fisikal hingga spiritual. Karena ilmu filsafat tidak hanya membicarakan yang “ada” (fisikal) sejauh yang ada, tetapi juga mengkaji yang “tiada” (spiritual) melalui gejala-gejala dari yang “ada”.

Dari sisi manajemen, organisasi dan kepemimpinan, ITB melaksanakan penataan lembaga dengan kepemimpinan yang baik untuk membangun organisasi pendidikan yang encer, fleksibel, leluasa dan fokus terhadap kebutuhan. Menumbuhkan rasa memiliki yang luas dengan memperhatikan: (1) Keterbukaan dan kejujuran, (2) Evaluasi struktural suatu organisasi, (3) Menciptakan sistem penghargaan konsisten dengan tujuan dan sasaran, (4) Mengerti dan memenuhi kebutuhan konsumen, (5) Merangkul teknologi informasi yang membuat perubahan mendasar, (6) Aktif mencari cara mendesentralisasi pengendalian yang sinkron, (7) Menetapkan bagaimana memotivasi efektif bagi para pekerja ilmu, (8) Menciptakan pikiran yang sadar dan mengerti perlunya kecepatan dan respons seksama, (9) Meraih diversitas dan perspektif global, serta (10) Menciptakan institusi yang hidup dan belajar.

Pada tulisan ini, manajemen, organisasi dan kepemimpinan dirangkum dalam ulasan individual character building yang trusty, honesty, transparancy, fairly dan accuracy, karena untuk menghadapi perspektif global memerlukan kesiapan total. Di dalam kondisi bangsa yang tidak sehat seperti saat ini, perlu kemauan keras dan optimalisasi kemampuan secara total menghadapi kompetisi antar bangsa pada Globalisasi 2020.

Perubahan nasional sejak Reformasi 1998 dan Transformasi ITB 2000, seharusnya menumbuhkan rasa nasionalisme baru, terutama sense of unity dan sense of belonging. Tetapi masalah demi masalah hanya menumpuk melahirkan pesimisme taedium vitae atau weltschmerz atau rasa “capek” pada kehidupan. Sehingga perubahan demi perubahan itu tidak atau belum mampu meningkatkan kualitas SDM, belum menciptakan sistem yang trusty, honesty, transparancy, fairly dan accuracy, serta belum melahirkan manusia dan Bangsa Indonesia yang benar-benar merdeka secara esensial.

“O Tempora! O Mores!” kata Cicero yang menjeritkan kegalauan pada masanya. Tetapi bagi ITB sebagai “panglima” sains dan teknologi seharusnya bijak menghadapinya karena tidak ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dari dan oleh akal-pikiran manusia. Semangat reformasi, atau istilah ITB: transformasi, harus menyentuh perubahan pola pikir yang lebih terstruktur. Model kepemimpinan kolektif ITB yakni Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, Majelis Guru Besar, Rektor hendaknya tidak lagi berpola pikir yang teoritis-teknis tetapi lebih praktis-filosofis dari sisi kurikulum, sistem pendidikan dan pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara (NKRI).

Pembenahan idealisme itu selain meningkatkan kinerja institusionalnya, juga akan memperbaiki individual character yang trusty, honesty, transparancy, fairly dan accuracy. Jika SDM ITB bisa ditingkatkan, bersama ribuan alumninya yang andal, ITB pun akan menunjang peningkatan kualitas SDM Indonesia dalam membangun national
character dan mampu berkompetisi di era Globalisasi 2020. SDM Indonesia yang andal secara phisical, intellectual, emotional, spiritual menjadi guaranty kemampuan menata kembali kondisi bangsa yang sedang carut-marut menuju Indonesia Baru yang jauh lebih baik.

De Technische Hooge School te Bandung didirikan 3 Juli 1920 dan menjadi ITB pada 2 Maret 1959. ITB diharapkan bisa melahirkan pemimpin baru pasca Sukarno yang telah membuktikan diri sebagai mahasiswa plus pemikir-pejuang melalui “revolusi pemikiran” pada tahun-tahun 1922-1923 ketika masih berstatus mahasiswa THS/ITB. Hampir seabad pengalaman ITB sebagai scientist, maka ITB harus bisa mengarahkan visi sebagai agent of change melalui pendidikan, penelitian-pengembangan, pemberdayaan atau pelayanan pada masyarakat, kemandirian pada idealisme dan nasionalisme dan tidak terpengaruh pada arus globalisasi yang bercirikan kapitalisme dan materialisme, serta hanyut mengalir mengikuti selera pasar dunia yang konsumeristis.

Sisdiknas: Hakikat Pendidikan dan Perubahan

Konsep dasar sisdiknas adalah pemahaman awal terhadap perbedaan filosofi pendidikan dan pengajaran, serta ilmu dan pengetahuan. Kesalah-pahaman akan mengakibatkan rancunya makna tujuan pendidikan. Adapun perbedaan hakiki antara pendidikan dan pengajaran adalah: pada kata ‘mendidik‘ memiliki makna mendalam karena ada tanggung-jawab moral pendidik agar peserta didik mengerti, memahami, dan menghayati apa yang diberikan kepadanya, sedangkan pada kata ‘mengajar‘ mengandung pengertian hanya menyampaikan materi untuk sekedar tahu dan bisa, serta tidak menuntutnya lebih menghayati melalui analisa dan penalaran.

Sisdiknas selama ini belum melahirkan pemikir-pejuang yang andal terutama terkait idealisme dan nasionalisme karena ketidak-pahaman hakikat pendidikan tadi. Sistem pengajaran (bukan pendidikan) di semua jenjang pendidikan di Indonesia masih menekankan materi (bukan esensi) dan hafalan (bukan analisa-penalaran). Semuanya lebih menekankan pada kuantitas nilai, IP, SKS daripada kualitas.

Mahasiswa pun sebagai objek sisdiknas belum mampu memberikan koreksi positif padanya. Mahasiswa aktifis lebih banyak melakukan aksi fisikal daripada bergaining intelektual. Sedang mahasiswa yang rajin belajar, setelah lulus sarjana lebih berorientasi mengabdi ke industri dari pada cinta negeri, “menjual” harga diri dari pada mengikuti hati nurani. Ini terjadi karena sisdiknas tidak berorientasi pada pengembangan dan keseimbangan phisic, intellectual, emotional, spiritual quotient. Gelar sarjana belum menjamin kualitas SDM, karena begitu mudah lulus sekolah, banyak kasus ijazah palsu, jual-beli skripsi serta perilaku yang tidak profesional.

Sedikit sekali akademisi yang memahami filsafat ilmu pengetahuan. Adalah Auguste Comte (1798-1857), penganut filasafat positivisme, yang berpendirian bahwa segalanya berdasarkan fakta atau kenyataan. Ia membagi ilmu pengetahuan menjadi enam, yaitu: Ilmu Pasti, Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi dan Sosiologi. Tetapi penulis lebih mengacu pemikiran kritis-dialektis-integralistis Nabi Ibrahim ketika “mencari” Tuhan yang ia percayai sebagai sumber kebenaran hakiki. Ia pun memulai dengan melihat bintang, bulan, matahari dan berakhir ke tauhid, sehingga melahirkan sintesa bahwa ilmu pengetahuan dibagi menjadi tujuh, yaitu: Astronomi, Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Sosiologi dan Fisafat/Agama.

Ketujuh cabang ilmu pengetahuan tersebut merupakan perwujudan realisme yang sebenarnya, yaitu segalanya berdasarkan “kenyataan” dan “ketidak-nyataan”, atau antara yang “ada” dan “tiada” sebagaimana telah disinggung di depan. Dengan menganalisis yang “tiada” dari gejala yang “ada”, salah satunya dimanfaatkan untuk memprediksi segala sesuatu di masa depan seperti Prediksi dan Visi “ITB 2020”.

Konklusi seluruh ilmu pengetahuan ternyata berakhir di filsafat atau agama, jika dan hanya jika agama diperlakukan “apa adanya”. I Gede Prama pun akhirnya menyentuh masalah hati atau agama di dalam setiap ulasan manajemennya terkait soal keterbukaan, kejujuran, kesederhanaan dan lain-lain. Begitu pula Newton dan Einstein yang mengakui The Great Creator. Ini membuktikan bahwa setiap ilmu harus difilsafati. Adalah malapetaka jika sarjana tidak paham filosofi ilmu karena ia akan mengalami kebodohan intelektual, kemiskinan jiwa dalam kemiskinan filsafat.

Banyaknya sarjana yang tidak memahami filsafat ilmu dan perbedaan esensi antara ilmu dan pengetahuan membuktikan adanya gejala kemiskinan filsafat tadi. Untuk menambah sedikit wawasan, maka berikut ini dijelaskan perbedaan mendasar antara ilmu
(science) dan pengetahuan
(knowledge):

Ilmu (Science)        Pengetahuan (Knowledge)

Sumber            Tuhan            Manusia / Alam Semesta

Tata Nilai            Kebenaran        Kebetulan

Proses            Pendidikan        Pengajaran

Materi            Kualitas            Kuantitas

Biaya            Relatif murah        Relatif mahal

Hasil            Inti-inti kebijaksanaan    Gelar-gelar kesarjanaan

Kecenderungan        Sederhana-Pengabdian    Kaya-Penguasaan

Pengakuan Manusia    Tidak butuh        Sangat butuh

Sementara itu menurut kamus dijelaskan bahwa ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang telah disusun sistematis; dan pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui karena mempelajari, melihat atau menyaksikan. Jadi, sejauh ilmu yang bisa dicerna logika dan teknologi manusia, itulah pengetahuan manusia. Selebihnya belum terkuak masih misteri. Newton pun berkata dengan bijak, “…saya nampaknya bagaikan anak laki-laki yang bermain di pantai dan kemudian menemukan koral dan kerang yang lebih indah dari biasanya, sementara samudera besar kebenaran terbentang di hadapan saya tidak terungkapkan.”

Kecenderungan ilmu sebagai unsur alam bersifat sangat obyektif, pasif, jujur, sederhana dan mengabdi pada hukum kebenaran yang diberlakukan kepadanya. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh kuantitatif dan cenderung konsumtif, bersifat subyektif bergantung manusia penemunya. Teori, postulat, asumsi selalu berubah dari waktu ke waktu untuk saling melengkapi dan menyempurnakan.

Ilmu identik ke-benar-an dan pengetahuan identik ke-betul-an. Mengacu dari berbagai definisi di atas, jika manusia sekedar berpengetahuan dan tidak berilmu, selamanya ia takkan pernah memahami kebenaran. Jalaluddin Rumi pun berkata, “Hanya dengan menjadi kebenaran yang bisa memahami dan menghayati adanya Hakikat Kebenaran.” Memang terdengar asing mengaitkan sains dan teknologi bagi ITB dengan fenomena di atas karena memang belum lazim dan belum terbiasa.

Tetapi inti dari hakikat pendidikan mengajarkan kebenaran. Orang yang telah mencapai inti-inti kebijakan pasti setuju dengan Rumi. Ketika manusia memahami pelajaran azali dari alam yang disiplin, jujur “apa adanya”; maka penguasaan sains dan teknologi baginya tidak begitu sulit. Alam mengajarkan kebenaran dan keseimbangan, sebab kebenaran memberikan keseimbangan; “Kamu takkan melihat ciptaan Tuhan tidak seimbang. Lihatlah berulangkali, adakah kamu melihat yang tidak seimbang. Pandanglah sekali lagi, penglihatanmu akan kembali padamu dan tidak menemukan yang cacat dan penglihatanmu menjadi payah”. Secara sains, keseimbangan itu begitu dekat dengan Hukum Newton I, II, III.

Pengalaman manusia menjadi dewasa melalui hal-hal yang ia rasakan benar. Nilai “benar”nya waktu ia kecil berdasarkan dogma dari orang tua atau guru. Nilai “benar”nya akan berubah ketika ia beranjak dewasa dan menemukan bukti ilmiah yang menggugurkan kebenaran dogmatisnya. Sejalan tumbuh-kembang intelektual, emosional dan spiritual; maka nilai kebenaran terbagi menjadi lima, yaitu dogmatis, empiris, saintis, filosofis dan religis. Kebenaran dogmatis sifatnya dangkal, hanya percaya tanpa dicek benarnya melalui data empirik. Kebenaran empiris diterima oleh indera yang masih diragukan pula. Kebenaran saintis memberikan fakta berdasarkan eksperimen tetapi sulit bagi ilmu sosial dengan variabel abstrak. Kebenaran filosofis mencoba melangkah lebih, tetapi ia pun kandas ketika masuk topik asal dan akhir dari semua kehidupan manusia. Maka kebenaran religis menjawab segala persoalan.

Untuk mengembalikan martabat bangsa dan fitrah manusia, harus mengembalikan tujuan azali pendidikan yang mengajarkan kebenaran dan keseimbangan. Negara secara politis dan ITB sebagai salah satu institusi akademis, amat bertanggung-jawab atas pendidikan dan perubahan menuju kebenaran dan keseimbangan. Plato (427-347 SM) berkata: “Pendidikan adalah tugas pokok dan panggilan yang harus diselenggarakan negara, dan oleh sebab itu tidak boleh dilalaikan begitu saja.”

Menemu-kenali Potensi Manusia

Pada awalnya manusia diciptakan sama secara fitrah, tidak ada uber alles. Masalahnya adalah bagaimana ia tumbuh dan berkembang serta mendidiknya sesuai bakat dan kemampuannya. Di sinilah dituntut peranan utama orang tua, masyarakat, pemerintah dan institusi pendidikan secara formal-akademis.

Secara umum, potensi manusia yaitu Phisical Quotient (PQ), Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ). Setiap potensi berkembang sejalan prosentase dominasi masing-masing quotient. Mahasiswa ITB tentu memiliki IQ lebih dominan dari pada PQ, EQ dan SQ. Tetapi, pada waktu-waktu tertentu, quotient lain mempunyai kehendak untuk diakomodasi misalnya untuk olah raga (PQ), ekspresi seni (EQ) dan kebutuhan rohani (SQ).

PQ pada umumnya berupa ketrampilan dan kekuatan fisik. Ia menghasilkan kemampuan olah-raga; berlari, melompat, berenang dan lain-lain. Ada pepatah men sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Tetapi ini perlu dipertanyakan jika mental dan batin belum seimbang.

IQ di otak kiri yang berfungsi berbicara menguasai bahasa; membaca, menulis dan berhitung; daya ingat nama, waktu dan peristiwa; sifat logis, analitis dan terarah pada satu persoalan, langkah-demi-langkah serta rasional. Ketika IQ mencapai puncak, ternyata pemenuhan IQ bagi manusia belum cukup.

EQ di otak kanan adalah sifat bawaan manusia yang tumbuh berkembang jika ia sadar kemampuan khususnya di bidang seni, budaya, bahasa dan lain-lain yang melibatkan emosi; berfungsi untuk sifat intuitif; waspada, atentif, konsentrasi; pengenalan ruang dan lingkungan; pengenalan diri dan orang lain; senang musik; kondisi emosi relatif stabil, terkendali; proses sosialisasi, pembentukan kepribadian dan mandiri; kreatif dan produktif. Kata Rugria: “Tiada sesuatu mempunyai makna di dunia yang tanpa rasa. Tetapi, SENIMAN memberi arti baik atau buruk.”

SQ berfungsi sebagai nurani, membisikkan kebenaran, kejuju-ran, keadilan, kesederhanaan, keikhlasan, kemanusiaan dan ketuhanan; bersumber dari kebe-aran hakiki. Kecerdasan spiritual adalah sifat azali yang tidak bisa diingkari karena ia pancaran dari The Great Creator. Mengingkari eksistensinya disebabkan penga-ruh lingkungan yang dibisikkan ego dan ambisi menyesatkan.

Semua analisa di atas pada dasarnya sejalan dengan proses transformasi ITB menuju academic exellence, prosperity dan agent of change yang terdiri dari komponen yaitu stakeholders, sistem, struktur, strategi, sumber daya, kompetensi, kepemimpinan dan nilai budaya bersama. Tetapi pada buku putih ITB tersebut pembahasannya secara struktural redaksional masih terkesan berbelit dan sulit dipahami selain oleh penyusunnya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: