(Artikel ini dimuat di Harian Kompas Jatim, …)

 

Menanggapi Artikel Sdr. Suwardi Muhammad (Kompas Jatim, Forum, 10/3/06).

Pornografi dan Tasawuf

 

 

SEORANG guru spiritual berjalan dengan muridnya di hutan. Tiba-tiba mereka menjumpai seorang wanita, muda nan cantik, tergeletak di bawah pohon. Setelah diteliti, wanita itu pingsan banyak kehabisan darah karena luka di paha. Sang Guru bertanya ke Si Murid, “Apa yang kita lakukan?”

 

    Si Murid terdiam sejenak, lalu berucap, “Kita bukan muhrimnya, Kita harus segera mencari seorang wanita lain untuk menolongnya.”

    “Dasar bodoh!” Sang Guru menghardik, “Cepat cari dedaunan untuk menghentikan perdarahan.” Sang Guru lantas menyibakkan rok wanita itu dan membersihkan luka-lukanya.

    Sebelum meninggalkan Sang Guru membersihkan luka di paha wanita itu, Si Murid sempat melotot melihat paha dan sebagian pantat mulus yang dilihatnya.

    “Apa yang kaulihat! Cepat kau cari daun untuk obat sebelum luka wanita ini lebih parah…!!”

    Singkat cerita, Sang Guru telah selesai mengobati wanita itu. Sang Guru dan Si Murid menerus-kan perjalanannya.

    “Guru telah berdosa besar!?” Si Murid memprotes gurunya.

    “Mengapa?”

    “Guru mengajarkan bahwa kita dilarang melihat apalagi me-nyentuh wanita bukan muhrim, apalagi mengelus-elus…”

    “Kamu yang berdosa besar!”

    “Lho, kok…?”

    “Di dalam pikiranmu sampai saat ini masih terbayang-bayang paha mulus dan pantat seksi…”

 

Dunia Tasawuf

Kisah tadi mewakili dua kubu yang saling bertolak belakang. Pertentangan seperti ini mewakili pula kelompok-kelompok yang menyikapi RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP).

Tulisan ini ingin menyoali artikel Sdr. Suwardi Muhammad berjudul Pornografi di Kawasan Sufi (Kompas Jatim, 10/3/06). Memang sangat menarik porno-grafi dilihat dari sisi tasawuf.

Sebetulnya para santri (sufi) yang semakin mendalami tasawuf, maka batas fisik (fana) bukanlah dunia yang diminati. Terawang batinnya telah terlatih melihat se-suatu yang lebih kekal, kedamaian dan kebahagiaan yang lebih abadi.

Seorang sufi yang “menjadi”, maka pastilah ia telah sekian lama terlatih puasa, sholat malam, zikir, senantiasa mendekatkan diri dan mengikatkan jiwanya pada Tuhan. Ketika melihat suatu persoalan, ia akan mencernanya secara bijak, bukan lagi nafsu yang berbicara – bahkan untuk isu pornografi itu.

Misalnya ia dihadapkan pada wanita cantik yang menggoda, ia akan melihat apa adanya dahulu tanpa terpengaruh hawa nafsu. Ketika si wanita merasa godaan-nya belum berhasil, ia meliukkan tubuhnya membangkitkan nafsu.

Sang Sufi itu memandangnya dengan tenang tidak terpengaruh. Justru si wanita makin penasaran. Bagai penari striptease, wanita itu melucuti helai demi helai pakaian hingga telanjang bulat.

Sang Sufi yang sangat akrab dengan dunia tasawuf hanya ter-senyum. Ia sudah biasa “bermain” dengan godaan (bisikan) setan melalui jin dan manusia.

Akhirnya Sang Sufi berkata, “Di balik cantik wajahmu, tubuh menggiurkan; tetapi engkau hanya tengkorak dan tulang-belulang setelah dagingmu habis disantap belatung. Tulangmu akan kering dan sirna dihempas angin…”

Ungkapan sufistik itu sulit dipahami orang awam. Seringkali ia berpuisi untuk mengungkapkan kata hati. Kata-kata sufi tadi ter-inspirasi Firman Tuhan, “Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.26) (QS. 55:26)

Dunia tasawuf sangat menarik dikaji dan di-lakoni. Sebagian pesantren memberikan pelajaran tasawuf. Tetapi karena amat sulit, sebagian besar pesantren lainnya memberikan pelajaran fiqih dan hukum syariat lainnya.

Dunia tasawuf bukan lagi dunia terukur. Misalnya zakat, ia tidak menetapkan sebesar 2.5% tetapi sudah 100% bahkan lebih! Ia pun tabu menerima honor untuk ceramahnya, apalagi mempunyai manajemen yang terkesan bisnis dan menjual ayat Tuhan dengan harga murah.

 

Jiwa yang Tenang

    Ciri dunia tasawuf yang benar adalah jiwa yang tenang, karena Hai jiwa yang tenang, kembali-lah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku.” (QS. 89:27-30).

    Andai setiap anak bangsa ber-jiwa tenang dan berhati bersih se-belum memutuskan sesuatu, pasti RUU APP tidak menjadi konflik. Liberalisasi pornografi-pornoaksi akan lebih afdol “dilawan” dengan komunitas sufi yang membumi dan menyebar ke segala penjuru kehidupan dan kegiatan sosial.

    Betapa pun jiwa yang tenang menjadi cita-cita utama manusia. Jika komunitas sufi secara benar menampilkan dunia tasawuf agar lebih menarik, pasti banyak orang mempelajarinya. Dan – perlahan tetapi pasti – RUU APP secara ikhlas tak pernah ada karena pornografi sendiri tak akan pernah ada lagi… Insya Allah.

 

DIDIK HARDIONO

Pemerhati Tasawuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: